Sosok Perjuangan Yusuf Ronodipuro, Penyiar Pertama Proklamasi Kemerdekaan RI
- 05 Agt 2026 12:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Yusuf Ronodipuro adalah tokoh penting pertama yang menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui radio kepada dunia.
- Pada 17 Agustus 1945 pagi, Yusuf Ronodipuro mulai bertugas sebagai penyiar radio Hoso Kyoku milik pemerintah Jepang.
- Perjuangan penyebar berita proklamasi ini layak dikenang menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, perjuangan penyebar berita proklamasi layak kembali dikenang masyarakat. Salah satu tokoh penting ialah Yusuf Ronodipuro yang pertama menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan melalui radio kepada dunia.
Mengutip Buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (Gunawan:2022), 17 Agustus 1945 pagi, Yusuf Ronodipuro sudah mulai bertugas. Saat itu ia masih bertugas sebagai penyiar radio Hoso Kyoku milik pemerintah Jepang.
Ia bersama rekan-rekannya dilarang meninggalkan gedung karena pengamanan tentara Jepang berlangsung sangat ketat. Namun, situasi berubah ketika Syahruddin berhasil menemui Yusuf sambil membawa secarik kertas dari Adam Malik.
Kertas tersebut berisi naskah Proklamasi Kemerdekaan yang baru saja dibacakan Soekarno dan Mohammad Hatta. Membaca tulisan tersebut, Yusuf segera memahami tugas besar yang harus dijalankannya demi kepentingan bangsa Indonesia.
Ia harus menyiarkan berita kemerdekaan melalui radio meski mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri. Kesempatan baru muncul pada malam hari sekitar pukul 19.00 setelah pengawasan mulai sedikit longgar.
Malam itu, Yusuf bersama Bachtiar Loebis diam-diam memasuki studio lama yang sudah tidak lagi digunakan untuk siaran. Studio tersebut ternyata sudah tidak tersambung dengan pemancar radio sehingga siaran tidak dapat dilakukan.
Yusuf kemudian menyambungkan kembali jaringan pemancar dari studio lain agar siaran dapat dipancarkan. Akhirnya, suara Yusuf mengudara mengabarkan Indonesia telah merdeka kepada masyarakat internasional.
Ia bahkan membacakan teks proklamasi dalam bahasa Inggris agar dipahami radio-radio luar negeri. Siaran tersebut kemudian diteruskan sejumlah stasiun radio di Singapura, Inggris, hingga Amerika Serikat.
Berkat keberanian Yusuf, dunia internasional segera mengetahui lahirnya negara baru bernama Republik Indonesia. Namun ternyata, keberhasilan siaran itu harus dibayar dengan risiko yang sangat besar bagi Yusuf dan rekan-rekannya.
Polisi militer Jepang menangkap, menginterogasi, dan menyiksa Yusuf serta Bachtiar Loebis hingga mengalami luka berat. Akibat penyiksaan tersebut, kaki Yusuf mengalami cedera permanen sehingga pincang sepanjang sisa kehidupannya.
Yusuf bahkan nyaris dieksekusi menggunakan pedang samurai sebelum dihentikan seorang perwira Jepang. Perjuangan Yusuf tidak berhenti setelah berhasil menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada dunia internasional.
Bersama dokter Abdulrahman Saleh, ia merakit pemancar sederhana bernama Radio Suara Indonesia Merdeka. Melalui radio rakitan tersebut, pidato Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali disiarkan kepada masyarakat.
Radio itu menjadi salah satu sarana penting menyebarluaskan semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada akhir 1951, Yusuf juga mengusulkan sebuah ide kepada Bung Karno.
Ia menyarankan untuk merekam ulang pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rekaman itulah yang hingga kini dikenal luas sebagai dokumentasi suara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919 dan meniti karier sebagai penyiar radio. Ia bergabung dengan Hoso Kyoku pada 1943 setelah sebelumnya bekerja di Pusat Kebudayaan bentukan Jepang.
Setelah kemerdekaan, Yusuf menjadi salah seorang penggagas berdirinya Radio Republik Indonesia bersama para pejuang radio lainnya. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang melahirkan semboyan legendaris "Sekali di Udara Tetap di Udara."
Yusuf kemudian dipercaya memimpin RRI, menjadi Direktur Jenderal Penerangan, hingga menjabat Duta Besar Indonesia. Setelah mengabdi di berbagai bidang, Yusuf Ronodipuro wafat di Jakarta pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun.
Hingga kini, nama Yusuf Ronodipuro dikenang sebagai pelopor penyiaran kemerdekaan Indonesia melalui gelombang radio nasional. Keberaniannya membuktikan suara perjuangan mampu menjangkau dunia ketika bangsa Indonesia baru saja merdeka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....