Fatmawati dan Bendera Merah Putih, Warisan Sejarah Indonesia yang Tak Tergantikan

  • 04 Agt 2026 09:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak hanya dikenang melalui pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Momen bersejarah itu, juga ditandai dengan berkibarnya Sang Saka Merah Putih
  • Lewat selembar Bendera Merah Putih yang dibuat dengan penuh ketelitian, ia menghadirkan simbol persatuan yang hingga kini tetap dihormati rakyat Indonesia.
  • Bendera itu saya jahit dengan tangan, sederhana saja. Tetapi dengan harapan besar bahwa suatu hari kelak bendera itu akan berkibar sebagai lambang bangsa merdeka

RRI.CO.ID, Jakarta - Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tidak hanya dikenang melalui pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Mohammad Hatta. Momen bersejarah itu, juga ditandai dengan berkibarnya Sang Saka Merah Putih hasil jahitan tangan Fatmawati.

Sosok Fatmawati, menjadi salah satu tokoh perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi perjalanan bangsa Indonesia. Lewat selembar Bendera Merah Putih yang dibuat dengan penuh ketelitian, ia menghadirkan simbol persatuan yang hingga kini tetap dihormati rakyat Indonesia.

Melansir laman papuapegunungan.kpu.go.id, Fatmawati lahir di Bengkulu, pada 5 Februari 1923 dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Fatmawati tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan memperoleh pendidikan yang menanamkan nilai kedisiplinan serta pengabdian kepada masyarakat.

Hubungan Fatmawati dengan Soekarno mulai terjalin, ketika Presiden pertama Indonesia itu menjalani masa pengasingan di Bengkulu pada 1938. Kedekatan tersebut berlanjut hingga keduanya menikah pada 1 Juni 1943.

Dalam buku Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1981), Fatmawati menceritakan proses pembuatan bendera dilakukan pada awal Agustus 1945. Saat itu, situasi politik sedang berubah cepat setelah posisi Jepang di Perang Dunia II semakin melemah.

"Bendera itu saya jahit dengan tangan, sederhana saja. Tetapi dengan harapan besar bahwa suatu hari kelak bendera itu akan berkibar sebagai lambang bangsa merdeka," kata Fatmawati dalam catatan tersebut yang dikutip RRI.co.id , Selasa, 4 Agustus 2026.

Dalam mempersiapkan Bendera Merah Putih, Fatmawati menggunakan kain mori yang tersedia di rumah sebagai bahan utama. Seluruh proses penjahitan dilakukan secara manual karena keterbatasan peralatan pada masa itu.

Bendera berukuran sekitar 2 x 3 meter tersebut, kemudian dipersiapkan menjelang pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hasil jahitan sederhana itu, justru menjadi salah satu benda paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Sejarawan menilai, karya Fatmawati memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi Indonesia. Menurutnya, bendera tersebut bukan hanya lambang negara, tetapi juga artefak penting yang merekam lahirnya Indonesia sebagai bangsa merdeka.

Pada pagi 17 Agustus 1945, bendera jahitan Fatmawati dikibarkan di halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Upacara berlangsung sederhana dengan dihadiri para tokoh pergerakan, pemuda, dan masyarakat sekitar.

Pengibaran Bendera Merah Putih itu, dilakukan oleh bersama. Keduanya dipercaya mengerek Merah Putih hanya beberapa saat sebelum upacara dimulai.

Dalam dokumentasi , Latief Hendraningrat mengenang suasana bersejarah tersebut. "Ketika bendera itu diangkat, kami merasakan seluruh harapan dan perjuangan bangsa tertumpu pada kain merah putih itu," kata Latief.

Sejak saat itu, bendera hasil jahitan Fatmawati dikenal sebagai Bendera Pusaka. Selama lebih dari dua dekade, bendera tersebut selalu dikibarkan setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Memasuki akhir 1960-an, kondisi fisik Bendera Pusaka mulai mengalami kerusakan akibat faktor usia. Pemerintah kemudian memutuskan untuk menggantinya dengan duplikat agar naskah asli tetap terjaga kelestariannya.

Menurut data resmi Kementerian Sekretariat Negara, Bendera Pusaka kini disimpan dan dirawat menggunakan metode konservasi khusus. Langkah tersebut, dilakukan untuk menjaga keaslian sekaligus nilai sejarahnya bagi generasi mendatang.

Selain dikenal sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih, Fatmawati juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Dedikasinya kepada bangsa membuat negara memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana.

Sejarawan menilai, Fatmawati menjadi simbol penting perjuangan perempuan Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan bangsa tidak hanya diraih melalui pertempuran di medan perang, tetapi juga melalui kontribusi perempuan dalam berbagai bidang.

Pada 2000, pemerintah menetapkan Fatmawati sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas jasa besarnya dalam sejarah Indonesia.

Putri Fatmawati, pernah mengenang pesan yang selalu disampaikan ibunya. "Ibu selalu mengatakan setiap orang, sekecil apa pun perannya, dapat memberi arti bagi bangsa, itu yang diajarkannya lewat bendera yang dijahitnya," kata Putri Fatmawati.

Fatmawati wafat di Kuala Lumpur pada 14 Mei 1980. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, sementara namanya terus dikenang melalui berbagai fasilitas publik, termasuk bandar udara di Bengkulu.

Hingga kini, kisah Fatmawati tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Ketelitian, keikhlasan, dan semangat pengabdiannya membuktikan bahwa sebuah karya sederhana dapat menjadi simbol lahirnya sebuah negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....