Menkomdigi: Banyak Konten Hoaks untuk Provokasi jelang HUT ke-81 RI
- 04 Agt 2026 14:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengumumkan bahwa konten hoaks berisi provokasi sedang marak beredar di ruang digital Indonesia.
- Peredaran konten hoaks tersebut meningkat secara khusus menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
- Menkomdigi menilai konten hoaks tersebut bertujuan untuk menyulutkan amarah publik di tengah suasana kehangatan perayaan HUT RI ke-81.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, mengatakan, konten hoaks yang mengandung provokasi marak beredar di ruang digital. Hal itu disampaikannya, merespon beberapa waktu belakangan ini marak peredaran konten hoaks terkait aksi demonstrasi.
Menkomdigi menuturkan bahwa tren peredaran konten hoaks itu terjadi secara khususnya menjelang Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. Konten hoaks tersebut dinilainya, untuk menyulutkan amarah publik di tengah kondisi Indonesia dalam suasana kehangatan menyambut HUT ke-81 RI.
"Kita mencermati dalam mendekati Agustus ini terutama menjelang Hari Kemerdekaan kita, bahwa banyak sekali konten-konten hoax yang diproduksi. Untuk melakukan provokasi-provokasi terhadap kondisi yang baik saat ini," kata Meutya dalam konferensi persnya, di Kantor Kemkomdigi, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
Untuk itu ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar di ruang digital. Diungkapkan Menkomdigi, bahwa konten hoaks yang beredar di ruang digital bermacam-macam.
"Teman-teman harus melihat videonya. Jadi ada yang betul-betul hoax, artinya kejadian yang tidak ada kemudian ditayankan, ada yang namanya hoax gabungan," ujarnya.
Seperti dijelaskannya, konten dengan menggunakan video lampau dan dimuat kembali dengan narasi yang berbeda. Serta terdapat konten hoaks yang menggabungkan video dari negara lain yang dikaitkan dengan lokasi kejadian di Indonesia.
"Jadi gambarnya ada tapi tidak sesuai konteks waktu, gambar lama kemudian ditayangkan. Ada lagi bentuk hoax yang menggabungkan, bahkan kejadian di negara lain, kemudian seolah-olah ada di Indonesia," imbuh Menkomdigi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....