Achmad Soebardjo, Pahlawan yang Rela Bertaruh Nyawa Demi Proklamasi

  • 04 Agt 2026 13:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Achmad Soebardjo berperan penting menjemput Sukarno dan Mohammad Hatta dari Rengasdengklok setelah mencapai kesepakatan dengan golongan muda.
  • Soebardjo mempertaruhkan nyawanya sebagai jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945.
  • Achmad Soebardjo ikut merumuskan teks Proklamasi bersama Sukarno dan Mohammad Hatta, lalu menjadi Menteri Luar Negeri pertama Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Achmad Soebardjo menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945. Perannya tidak hanya merumuskan teks proklamasi, tetapi juga menjembatani perbedaan pandangan hingga memastikan proklamasi terlaksana tepat waktu.

Kontribusi Achmad Soebardjo sering kali berada di balik layar, namun pengaruhnya sangat menentukan jalannya proses kemerdekaan Indonesia kala itu. Berbagai langkah diplomasi yang dilakukannya membantu mempertemukan tokoh bangsa dalam momentum bersejarah menuju lahirnya Republik Indonesia.

Achmad Soebardjo Penjemput Sukarno-Hatta dari Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok bermula ketika golongan muda dan golongan tua berbeda pandangan mengenai waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia saat itu. Golongan muda mendesak proklamasi segera diumumkan, sedangkan golongan tua masih mempertimbangkan berbagai kondisi politik yang berkembang kala itu.

Perbedaan pandangan tersebut membuat Sukarno dan Mohammad Hatta dibawa menuju Rengasdengklok oleh sejumlah tokoh dari golongan muda. Langkah itu dilakukan untuk mendorong kedua pemimpin bangsa segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa pengaruh pemerintah pendudukan Jepang saat itu.

Di Jakarta, Achmad Soebardjo kemudian mengadakan pertemuan bersama Wikana sebagai perwakilan golongan muda untuk mencari jalan tengah bersama. Kedua pihak akhirnya menyepakati bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan secepatnya di Jakarta pada keesokan harinya.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Achmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, berangkat menuju Rengasdengklok untuk menjemput Sukarno dan Hatta kembali. Perjalanan itu menjadi langkah penting dalam memastikan seluruh persiapan proklamasi dapat berlangsung sesuai rencana nasional yang disepakati.

Jaminkan Nyawa Saat Peristiwa Rengasdengklok

Achmad Soebardjo berhasil meyakinkan golongan muda agar mengizinkan Sukarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta dengan segera bersama. Keberhasilan tersebut diperoleh setelah Soebardjo memberikan jaminan pribadi bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 tepat waktu.

Untuk memperkuat komitmennya, Achmad Soebardjo bahkan mempertaruhkan keselamatan dirinya di hadapan para tokoh golongan muda saat itu bersama. Ia menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan nyawanya apabila janji pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak benar-benar diwujudkan keesokan harinya nanti.

Achmad Soebardjo Lobi Laksamana Maeda untuk Pakai Rumahnya

Setelah Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta, persiapan penyusunan teks proklamasi segera dilakukan oleh para tokoh bangsa bersama. Rencana menggunakan Hotel Des Indes batal sehingga Achmad Soebardjo mengusulkan kediaman Laksamana Tadashi Maeda sebagai lokasi pertemuan tersebut.

Usulan tersebut diterima karena rumah Maeda dinilai aman dari gangguan militer Jepang sekaligus mendukung proses penyusunan naskah kemerdekaan nasional. Kedekatan Soebardjo dengan Laksamana Maeda sejak masa pendudukan Jepang mempermudah proses komunikasi dan memperoleh izin penggunaan rumah tersebut.

Ikut Rumuskan Teks Proklamasi Bersama Sukarno-Hatta

Di kediaman Laksamana Maeda, Achmad Soebardjo ikut merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan bersama Sukarno dan Mohammad Hatta hingga selesai. Sukarno menuliskan konsep proklamasi, sementara Hatta dan Soebardjo memberikan berbagai masukan penting secara lisan selama perumusan berlangsung.

Setelah Indonesia merdeka, Achmad Soebardjo dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri pertama dan kembali menjabat pada periode 1951 hingga 1952. Atas dedikasinya terhadap perjuangan bangsa, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Achmad Soebardjo pada tahun 2009.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....