Kisah Kapitan Pattimura, Pahlawan Maluku yang Membuat Belanda Ketakutan

  • 04 Agt 2026 08:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kapitan Pattimura dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sosok yang memiliki nama asli Thomas Matulessy ini, memimpin rakyat Maluku bangkit melawan Belanda
  • Perlawanan Kapitan Pattimura terhadap Kolonialisme Belanda di Maluku bukan muncul tanpa alasan. Kebijakan kolonial yang menekan kehidupan masyarakat membuat penderitaan rakyat Maluku semakin berat dari tahun ke tahun.
  • Thomas Matulessy lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah, pada 8 Juni 1783. Ia merupakan, putra Frans Matulessy dan Fransina Silahoi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kapitan Pattimura dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sosok yang memiliki nama asli Thomas Matulessy ini, memimpin rakyat Maluku bangkit melawan kolonialisme Belanda pada 1817.

Perlawanan Kapitan Pattimura terhadap Kolonialisme Belanda di Maluku bukan muncul tanpa alasan. Kebijakan kolonial yang menekan kehidupan masyarakat membuat penderitaan rakyat Maluku semakin berat dari tahun ke tahun.

Melansir laman Kemendikbudristek, Thomas Matulessy lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah, pada 8 Juni 1783. Ia merupakan, putra Frans Matulessy dan Fransina Silahoi.

Sebelum dikenal sebagai pemimpin perlawanan, Pattimura pernah menjadi sersan dalam militer Inggris. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting ketika memimpin strategi perang menghadapi Belanda.

Memasuki awal abad ke-19, kondisi masyarakat Maluku semakin memprihatinkan. Meski menjadi penghasil utama cengkih dan pala yang laku di pasar dunia, rakyat justru tidak menikmati hasil kekayaan alam mereka.

Melansir Buku Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MA Kelas XI, Kemendikbud, 2014, Belanda menerapkan berbagai kebijakan yang dinilai sangat memberatkan masyarakat. Seperti, penyerahan hasil bumi secara wajib (Verplichte Leverantie), sistem contingenten, hingga blokade perdagangan yang membatasi hubungan dengan pedagang Nusantara.

Situasi semakin berubah, setelah kekuasaan Inggris di Maluku berakhir pada 1817. Belanda kembali mengambil alih pemerintahan melalui Gubernur Van Middelkoop dan Residen Saparua Johannes Rudolf van den Berg.

Kembalinya pemerintahan Belanda memicu kemarahan masyarakat Maluku. Tokoh-tokoh adat dan para pemimpin negeri, kemudian menggelar musyawarah untuk menentukan langkah bersama menghadapi penjajah.

Dalam pertemuan tersebut, Thomas Matulessy dipercaya memimpin perjuangan rakyat. Pada 7 Mei 1817 di Baileu Haria, ia resmi diangkat sebagai Kapitan Besar.

Dalam memerangi Belanda, Pattimura tidak bergerak sendirian dan didukung sejumlah tokoh besar di Maluku. Seperti, Anthoni Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya, Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu.

Puncak keberhasilan pasukan Pattimura dalam melawan Belanda, terjadi pada 16 Mei 1817. Mereka berhasil merebut Benteng Duurstede di Pulau Saparua setelah melancarkan serangan besar terhadap pasukan Belanda.

Dalam pertempuran tersebut, Residen Van den Berg bersama sejumlah serdadu Belanda tewas. Kemenangan itu, menjadi pukulan telak bagi pemerintah kolonial Belanda di Maluku.

Tidak mau kalah, Belanda kemudian mengirim pasukan dalam jumlah besar di bawah komando Mayor Beetjes. Operasi militer tersebut, dikenal sebagai Ekspedisi Beetjes.

Menghadapi serangan itu, Pattimura menyusun strategi pertahanan di sepanjang pesisir Teluk Haria hingga Teluk Saparua. Sekitar seribu pejuang rakyat dikerahkan untuk mempertahankan wilayah tersebut.

Strategi yang diterapkan Pattimura tersebut, sempat membuahkan hasil. Pasukan Belanda kembali dipukul mundur, sehingga Benteng Duurstede mampu dipertahankan selama kurang lebih tiga bulan.

Namun, kekuatan militer Belanda terus bertambah di Maluku. Persenjataan yang lebih modern, membuat posisi pasukan Pattimura semakin terdesak.

Setelah Benteng Duurstede jatuh kembali ke tangan Belanda, Pattimura akhirnya ditangkap di Siri Sori. Ia bersama sejumlah pengikutnya kemudian dibawa ke Ambon.

Pemerintah kolonial Belanda berusaha membujuk Pattimura agar bersedia bekerja sama. Akan tetapi, Pattimura bersama seluruh tawaran tersebut ditolak dengan tegas.

Dalam catatan sejarah, Pattimura tetap memilih mempertahankan prinsip perjuangannya hingga akhir hayat. Sikap itu, menjadikannya simbol keberanian rakyat Maluku dalam melawan penjajahan.

Pengadilan kolonial Belanda kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Pattimura. Eksekusi dilaksanakan dengan hukuman gantung di depan Benteng Victoria, Ambon, pada 16 Desember 1817.

Perjuangan Kapitan Pattimura meninggalkan jejak penting dalam sejarah Indonesia. Namanya kini diabadikan sebagai pahlawan nasional, menjadi nama bandar udara, universitas, hingga menghiasi uang pecahan Rp1.000 diterbitkan Bank Indonesia (BI).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....