Bangun Kemerdekaan Energi melalui Wakaf Hijau Berbasis Masjid

  • 02 Agt 2026 07:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakaf Hijau didentifikasi sebagai skema potensial untuk mempercepat transisi energi bersih berbasis komunitas menjelang peringatan HUT Ke-81 Indonesia.
  • Masjid dan jaringan umat memiliki peran strategis sebagai penggerak solarisasi nasional melalui penerapan energi terbarukan komunitas.
  • Indonesia Net-Zero Summit 2026 menghadirkan panel diskusi yang mempertemukan lembaga negara, pemerintah, dan konsorsium masyarakat sipil untuk membahas kontribusi berbasis iman terhadap ambisi solarisasi Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang peringatan HUT Ke-81 Republik Indonesia, isu kedaulatan energi kembali mengemuka melalui penguatan energi terbarukan berbasis komunitas. Masjid dan jaringan umat dinilai berpotensi menjadi penggerak transisi energi bersih melalui skema Wakaf Hijau (Green Waqf).

Hal itu mengemuka dalam panel diskusi Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 bertajuk Faith-Based Contribution to Indonesia’s Solarization Ambition. Forum tersebut mempertemukan perwakilan lembaga negara, pemerintah, dan konsorsium masyarakat sipil.

Diskusi menyoroti peluang gerakan keagamaan dalam mendukung target nasional pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW. Potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) diperkirakan mencapai hampir Rp400 triliun per tahun, termasuk wakaf uang sekitar Rp181 triliun.

Komisioner sekaligus Ketua Lembaga Kenazhiran Badan Wakaf Indonesia (BWI), M. Ali Yusuf, mengatakan transisi energi dan penanganan krisis iklim merupakan bagian dari prinsip Maqashid Syariah. Menurutnya, energi terbarukan menjadi salah satu pilar pengembangan wakaf produktif.

“Kami di Kementerian Agama dan Badan Wakaf terus mencari cara agar potensi besar ini tidak hanya menjadi angka. Yang dibutuhkan adalah dukungan publik dan literasi wakaf, termasuk untuk instalasi panel surya di atap masjid,” kata Ali dalam diskusi di Jakarta, 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan panel surya berbasis wakaf dapat mengurangi beban biaya listrik rumah ibadah. Penghematan operasional tersebut dapat dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dari sisi kebijakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut bauran energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terus meningkat. Pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dalam pengembangan solarisasi atap.

Staf Khusus Bidang Percepatan Isu Strategis Sektor ESDM, M. Pradana Indraputra, mengatakan transformasi energi tidak mungkin hanya mengandalkan APBN dan investasi skala besar. “RUPTL yang sekarang porsi energi terbarukannya meningkat menjadi sekitar 73 persen, termasuk dukungan baterai dan teknologi lainnya,” kata Pradana.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi gerakan komunitas dalam solarisasi atap. Termasuk yang melibatkan pendanaan umat,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah siap mendukung inisiatif rumah ibadah dalam pengembangan energi surya. Menurutnya, koordinasi dengan pemerintah diperlukan agar program tersebut dapat berjalan lebih efektif.

Dengan lebih dari 750 ribu masjid dan musala di Indonesia, potensi pembangkit energi terbarukan berbasis komunitas dinilai sangat besar. Jika 200 ribu masjid memasang PLTS berkapasitas 5 kW, kapasitas listrik bersih yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 1 GW.

Salah satu implementasi program tersebut dilakukan melalui platform sedekah dan wakaf energi NUUR+, yang diprakarsai konsorsium masyarakat sipil, termasuk MOSAIC. Program itu akan membangun solarisasi masjid di Aceh Tamiang yang terdampak bencana.

Deputi Direktur Program Just Energy Transition MOSAIC, Reka Maharwati, mengatakan solarisasi rumah ibadah memberikan dampak lingkungan sekaligus sosial-ekonomi. “Listrik berbasis surya di masjid bukan sekadar menghemat energi, tetapi juga menghidupkan ruang pemberdayaan masyarakat,” kata Reka.

“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan memperluas pembiayaan inovatif. Hal ini untuk mendukung target energi bersih berbasis masyarakat,” kata Reka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....