Kisah Heroik Pertempuran Lima Hari di Semarang yang Melahirkan Tugu Muda

  • 03 Agt 2026 09:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pertempuran Lima Hari di Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  • Meski Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, situasi keamanan di berbagai daerah masih belum stabil. Tentara Jepang yang seharusnya menunggu kedatangan Sekutu di beberapa wilayah masih mempertahankan persenjataan mereka
  • Konflik bermula pada 14 Oktober 1945 ketika sekitar 400 veteran Angkatan Laut Jepang melakukan pemberontakan saat dipindahkan ke Semarang. Mereka menyerang aparat kepolisian Indonesia yang mengawal perjalanan tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pertempuran Lima Hari di Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perlawanan tersebut, berlangsung pada 15–19 Oktober 1945 dan melibatkan rakyat Semarang melawan pasukan Jepang yang masih bersenjata setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Meski Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, situasi keamanan di berbagai daerah masih belum stabil. Tentara Jepang yang seharusnya menunggu kedatangan Sekutu di beberapa wilayah masih mempertahankan persenjataan mereka sehingga memicu berbagai bentrokan.

Awal Mula Pertempuran

Konflik bermula pada 14 Oktober 1945 ketika sekitar 400 veteran Angkatan Laut Jepang melakukan pemberontakan saat dipindahkan ke Semarang. Mereka menyerang aparat kepolisian Indonesia yang mengawal perjalanan tersebut.

Melansir buku Ilmu Pengetahuan Sosial 3 untuk SMP/MTs Kelas IX karya Ratna Sukmayani dkk. Dalam buku tersebut dijelaskan kelompok itu berupaya bergabung dengan pasukan Kidobutai di Jatingaleh yang dipimpin Mayor Kido. Tujuan mereka adalah mencari serta membebaskan tentara Jepang yang masih ditahan.

Situasi semakin memanas setelah muncul isu bahwa sumber cadangan air minum di kawasan Candi, Desa Wungkal, telah diracuni. Kekhawatiran itu membuat pasukan Jepang menyerang polisi Indonesia yang sedang menjaga lokasi tersebut.

Gugurnya Dr. Kariadi Memicu Kemarahan Rakyat

Di tengah situasi yang tegang, Dr. Kariadi datang untuk memastikan kondisi cadangan air tersebut. Namun, dokter yang dikenal sebagai tokoh kemanusiaan itu justru ditembak oleh tentara Jepang hingga gugur.

Kematian Dr. Kariadi membangkitkan amarah masyarakat Semarang. Peristiwa itu kemudian menjadi pemicu utama meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Perlawanan Sengit Selama Lima Hari

Mulai 15 Oktober 1945, pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan masyarakat Semarang melakukan perlawanan terhadap pasukan Kidobutai beserta batalyon Jepang lainnya. Pertempuran berlangsung di berbagai titik kota dengan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Perlawanan tersebut, akhirnya mereda setelah Gubernur Wongsonegoro bersama pimpinan TKR mengadakan perundingan dengan komandan Jepang. Proses penghentian konflik kemudian dipercepat pada 20 Oktober 1945 setelah Brigadir Jenderal Bethel dari pasukan Sekutu turut memfasilitasi gencatan senjata.

Setelah kesepakatan tercapai, pasukan Sekutu melucuti seluruh persenjataan Jepang. Tentara Jepang yang masih berada di Semarang selanjutnya ditawan sesuai hasil perundingan.

Tugu Muda, Simbol Semangat yang Tak Pernah Padam

Melansir Badan Otorita Borobudur (BOB) Kementerian Pariwisata, dalam mengenang perjuangan tersebut, pemerintah membangun Tugu Muda di Kota Semarang. Monumen itu diresmikan Presiden Sukarno pada 20 Mei 1953 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Bentuk Tugu Muda menyerupai lilin dengan kobaran api di bagian puncaknya. Api tersebut melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tidak pernah padam dalam mempertahankan kemerdekaan.

Sebelum Tugu Muda berdiri, monumen penghormatan kepada Dr. Kariadi sempat dibangun pada Oktober 1945 di Alun-Alun Semarang. Namun, monumen itu kemudian dibongkar oleh Belanda melalui NICA dan RAPWI.

Kini Tugu Muda berdiri di kawasan strategis Kota Semarang, tepat di depan Markas Kodam IV/Diponegoro. Lokasinya, juga berdekatan dengan Lawang Sewu dan Museum Mandala Bhakti sehingga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling terkenal di Jawa Tengah.

Makna Ornamen Tugu Muda

Tugu Muda memiliki banyak ornamen yang didominasi simbol angka lima sebagai representasi Pertempuran Lima Hari. Setiap bagian monumen memiliki makna tersendiri mengenai perjuangan rakyat Indonesia.

Lima bambu runcing menggambarkan senjata sederhana yang digunakan pejuang saat melawan Jepang. Di bawahnya terdapat lima lambang sila Pancasila sebagai simbol dasar negara yang dipertahankan para pejuang.

Monumen tersebut juga dihiasi Patung Hongerodeem atau Busung Lapar yang melambangkan penderitaan rakyat selama masa penjajahan. Selain itu terdapat Patung Pertempuran yang mencerminkan keberanian para pemuda Semarang.

Patung Penyerangan menggambarkan semangat rakyat melawan segala bentuk penjajahan. Sementara Patung Korban menjadi penghormatan kepada warga yang gugur dalam Pertempuran Lima Hari.

Bagian terakhir adalah Patung Kemenangan yang melambangkan keberhasilan perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Seluruh ornamen tersebut menjadikan Tugu Muda bukan hanya sebuah monumen, melainkan pengingat atas pengorbanan para pahlawan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....