Pedestrian Deck Dukuh Atas Diproyeksikan Pangkas Waktu Tempuh Pejalan Kaki

  • 02 Agt 2026 08:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas diproyeksikan menjadi solusi memangkas waktu perjalanan pejalan kaki sekaligus meningkatkan konektivitas antarmoda transportasi di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan empat kawasan utama yang selama ini terpisah oleh Jalan Jenderal Sudirman, jalur rel, dan aliran Kanal Banjir Barat.

Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan menjelaskan, pembangunan pedestrian deck berangkat dari persoalan keterhubungan kawasan yang selama ini membuat mobilitas pejalan kaki tidak efisien. "Kawasan Dukuh Atas saat ini terfragmentasi menjadi empat kuadran," kata Agus dalam MRTJ Fellowship Program, Kamis, 30 Juli 2026.

"Untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya, pejalan kaki harus turun ke permukaan jalan, memutar cukup jauh, kemudian kembali naik. Kondisi ini membuat perjalanan menjadi lebih lama dan kurang nyaman," katanya.

Agus mengatakan Pedestrian Deck Dukuh Atas menjadi penghubung empat kuadran tersebut yang menjadi titik temu berbagai moda transportasi, mulai dari MRT Jakarta, KRL Commuter, Kereta Bandara, Transjakarta, hingga LRT Jabodebek. Dengan konektivitas tersebut, perpindahan antarmoda diharapkan berlangsung lebih cepat dan seamless.

Selain memperkuat konektivitas, Pedestrian Deck Dukuh Atas juga dirancang agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Fasilitas ini akan dilengkapi dengan elevator, eskalator, serta desain yang menerapkan prinsip universal accessibility sehingga seluruh pengguna dapat berpindah antarmoda dengan aman dan nyaman.

Dari sisi arsitektur, pedestrian deck mengusung desain berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 100 meter dan berada pada ketinggian sekitar delapan meter di atas Jalan Jenderal Sudirman. Bentuk melingkar tersebut bukan dipilih tanpa alasan.

Agus memaparkan, desain itu dibuat untuk menjaga keselarasan dengan konsep tata kota koridor Sudirman–Thamrin yang sejak awal pembangunan Jakarta menggunakan elemen lingkaran sebagai titik orientasi kawasan. Mulai dari kawasan Senayan, Simpang Semanggi, Bundaran HI hingga kawasan Medan Merdeka dan Katedral.

"Karena itu kami memilih bentuk lingkaran agar tetap menghormati konsep desain kota yang sudah dirancang sejak awal. Kalau dibuat dengan bentuk lain, dikhawatirkan akan mengganggu keselarasan visual kawasan," ucap Agus.

Konsep desain tersebut juga telah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Agus berharap proyek senilai Rp300 miliar dan diproyeksikan akan rampung pada akhir 2028. Jalur ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh pejalan kaki, tetapi juga menghadirkan ruang publik baru yang nyaman, aman, inklusif, serta mendorong semakin banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....