Bukan Sekadar Mengejar, Inilah Peran Besar Guru Perintis di Pedalaman Papua

  • 01 Agt 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bernarda Rurit mengabadikan kisah guru perintis dalam sebuah buku sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian guru yang menjadi penggerak masyarakat di daerah terpencil.
  • Perubahan dunia pendidikan membuat sekolah menghadapi tantangan mempertahankan tenaga pendidik, karena banyak guru berpindah ke sekolah dengan kesejahteraan yang lebih baik.
  • Guru Perintis Amelia menilai perkembangan teknologi mengubah hubungan guru dan murid, sehingga nilai penghormatan, karakter, dan makna pendidikan perlu terus diperkuat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penulis Bernarda Rurit menyoroti besarnya pengabdian guru perintis yang bertugas di berbagai daerah terpencil Indonesia selama puluhan tahun. Menurutnya, para guru tersebut menjalankan peran jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengajar di ruang kelas setiap harinya.

Ia mengatakan guru perintis turut menjadi penggerak masyarakat melalui berbagai peran sosial yang dibutuhkan lingkungan sekitar setiap waktu. Pengabdian mereka berlangsung dalam kesunyian, meski memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan pendidikan dan kehidupan masyarakat di daerah terpencil.

"Guru-guru perintis tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi penggerak masyarakat dengan berbagai peran penting setiap hari. Mereka telah berjasa besar untuk Indonesia, namun pengabdiannya berlangsung sunyi dan nyaris tidak pernah mendapatkan perhatian luas masyarakat," katanya dalam dikusi bedah buku Menemukan Oase Harapan bagi Pendidikan Indonesia, Gedung KWI, Jakarta Pusat, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan gagasan tersebut mendorong dirinya bersama Romo Sudri menyusun buku yang mendokumentasikan kisah para guru perintis Indonesia. Menurutnya, buku menjadi media yang mampu menjaga jejak pengabdian mereka agar tetap dikenang lintas generasi sepanjang waktu.

Ia menilai kisah para guru perintis tidak hanya ditemukan di Papua, melainkan juga hadir di berbagai daerah Indonesia lainnya. Sumatera Selatan menjadi salah satu contoh wilayah yang menyimpan banyak cerita tentang dedikasi para guru dalam membangun masyarakat.

"Kami ingin memberikan penghargaan kepada para guru melalui buku karena dokumentasi akan tetap hidup sepanjang waktu untuk generasi mendatang. Kisah pengabdian mereka pantas dikenang agar masyarakat memahami besarnya perjuangan guru membangun pendidikan dari daerah-daerah terpencil Indonesia," ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan dunia pendidikan yang kini dihadapkan pada tantangan meningkatnya persaingan antarlembaga pendidikan. Kondisi tersebut membuat sebagian guru mulai mempertimbangkan faktor kesejahteraan ketika menentukan tempat mengabdi dalam karier profesional mereka.

Ia mengaku banyak mendengar cerita guru yang memulai karier di sekolah Katolik sebelum akhirnya berpindah ke sekolah internasional. Perbedaan penghasilan yang cukup besar menjadi salah satu alasan perpindahan tenaga pendidik dari sekolah-sekolah yang lebih kecil.

"Banyak guru menjadikan sekolah kecil sebagai langkah awal sebelum berpindah menuju sekolah internasional dengan penghasilan lebih tinggi setiap tahunnya. Akibatnya, sekolah harus kembali mencari tenaga pendidik baru dan membangun kualitas pendidikan dari awal secara berulang setiap waktu," ucapnya.

Bernarda berharap kisah guru perintis dapat membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menghargai profesi guru di seluruh Indonesia. Ia meyakini penghargaan terhadap pengabdian guru menjadi langkah penting untuk menjaga masa depan pendidikan nasional tetap berkualitas dan berkelanjutan.

Guru Perintis, Amelia menyoroti perubahan hubungan antara guru dan peserta didik yang kini semakin dipengaruhi perkembangan zaman. Menurutnya, nilai penghormatan kepada guru perlahan mengalami perubahan seiring hadirnya teknologi dan berbagai pengaruh dari luar.

Ia mengenang masa ketika anak-anak menyambut guru dengan sikap penuh hormat dan menjadikan nasihat sebagai pedoman kehidupan sehari-hari. Kini, sebagian peserta didik dinilai lebih sulit menerima arahan sehingga menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan Indonesia.

"Anak-anak yang dahulu menyapa dengan penuh hormat kini tidak selalu menerima nasihat guru dengan sikap yang sama setiap hari. Perubahan itu menjadi kenyataan yang dirasakan banyak guru ketika mendampingi generasi muda di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat," ujarnya.

Ia mengatakan pendidikan pada masa lalu memang berlangsung dengan fasilitas yang sederhana, namun memiliki makna mendalam bagi pembentukan karakter anak. Nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan rasa hormat menjadi fondasi utama dalam proses belajar yang dijalani para siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....