Bernarda Rurit Bongkar Proses Lahirnya Buku 'Kisah-Kisah Guru Perintis'

  • 01 Agt 2026 21:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Buku Kisah-Kisah Guru Perintis mengangkat pengabdian guru pedalaman Papua yang berjuang dengan fasilitas terbatas sekaligus menjadi pemimpin lokal bagi masyarakat.
  • Bernarda Rurit menilai peran guru melampaui tugas mengajar, karena mereka membangun hubungan sosial, memperkuat komunitas, dan menjadi inspirasi lintas generasi.
  • Proses penyusunan buku dilakukan melalui penelusuran sejarah di berbagai daerah, termasuk Papua, Makassar, Ambarawa, dan Yogyakarta, dengan mewawancarai para guru perintis serta saksi sejarah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penulis Bernarda Rurit mengungkapkan proses penulisan buku ketiganya berjudul 'Kisah-Kisah Guru Perintis' yang mengangkat pengabdian guru pedalaman Papua. Buku tersebut merangkum kisah nyata perjuangan para pendidik menghadapi berbagai tantangan demi menghadirkan pendidikan bagi masyarakat terpencil Indonesia.

Ia mengatakan para guru bertugas dengan fasilitas sangat terbatas, namun tetap menjalankan tanggung jawab mendidik anak-anak penuh dedikasi. Mereka bahkan harus menembus hutan dan lautan untuk mencapai lokasi penugasan di berbagai wilayah pedalaman Papua setiap harinya.

Menurut Bernarda, para guru tidak hanya menjalankan peran sebagai pendidik, tetapi juga menjadi pemimpin yang dipercaya masyarakat setempat. Mereka menghadirkan kemampuan, pengalaman, serta pengabdian yang memberikan manfaat besar bagi kehidupan sosial masyarakat di daerah pedalaman tersebut.

"Saya melihat ternyata guru-guru ini bukan hanya menjadi guru. Tetapi juga pemimpin lokal yang menyumbangkan kemampuan mereka untuk masyarakat," katanya dalam dikusi bedah buku Menemukan Oase Harapan bagi Pendidikan Indonesia, Gedung KWI, Jakarta Pusat, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia mengaku kisah dalam buku tersebut mengingatkannya kepada sang ayah yang juga mengabdikan hidup sebagai seorang guru dahulu. Pengalaman keluarganya menjadi inspirasi penting dalam memahami besarnya peran guru membangun kehidupan masyarakat lintas generasi hingga sekarang.

Ia menceritakan ayahnya pernah mengajar di Sumatera Selatan sekaligus aktif sebagai anggota dewan paroki serta tokoh masyarakat Katolik setempat. Peran tersebut membuat hubungan dengan pemerintah dan masyarakat sekitar terjalin baik sehingga proses perizinan sekolah berjalan lebih mudah.

"Hubungan yang baik dengan masyarakat dan pemerintah membuat berbagai perizinan sekolah menjadi lebih mudah dijalankan," ujarnya. Ia juga mengenang peristiwa ketika Uskup Palembang pernah mengalami perampokan di kawasan Rasuan yang hingga kini dikenal rawan keamanan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan tantangan berat yang dihadapi para pelayan masyarakat. Termasuk guru, saat mengabdikan diri di daerah terpencil Indonesia.

Pastor Dekan Dekenat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, Johanes Sudrijanta mengungkapkan keseluruhan proses pembuatan buku tersebut. Pria yang kerap di sapa Pastor Johanes ini juga salah satu penulis dari buku tersebut.

Ia menjelaskan, untuk menemukan kepingan sejarah, tim penulis harus menelusuri narasumber tidak hanya di wilayah Nabire dan Timika. Yetapi hingga ke luar Papua seperti Makassar, Ambarawa, sampai Yogyakarta.

"Sumber penting yang berhasil diwawancarai adalah orang tua dari Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, Silvanus Sumule. Ia yang dahulu pernah mengabdi sebagai guru perintis di pedalaman Paniai," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....