Buku TATAH Tawarkan Cara Baru Membaca Sejarah Jepara lewat Seni Ukir

  • 10 Jul 2026 23:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara menghadirkan rekonstruksi sejarah Jepara melalui pendekatan lintas disiplin, dengan menjadikan seni ukir sebagai pintu masuk memahami sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat.
  • Para akademisi menilai hasil riset dalam buku tersebut dapat menjadi dasar penyusunan peta jalan dan kebijakan pelestarian seni ukir agar tetap hidup serta berkembang di generasi mendatang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Buku TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara menawarkan perspektif baru membaca sejarah Jepara melalui seni ukir. Pendekatan itu menggabungkan sejarah, seni, budaya, hingga dinamika sosial masyarakat.

Bedah buku digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026. Forum tersebut menghadirkan penulis dan akademisi untuk membahas rekonstruksi sejarah Jepara.

"Ide besar buku ini adalah membangun kembali konstruksi sejarah Jepara. Seni ukir merupakan hasil perjalanan sejarah, bukan sekadar karya estetika," kata Arif Akhyat, selaku salah satu Penulis Buku, dalam Launching dan Bedah Buku Rekonstruksi Jepara melalui Seni Ukir di Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, 10 Juli 2026.

Arif menjelaskan tim penulis menelusuri arsip, artefak, dan peninggalan budaya sebagai dasar penelitian. Kajian juga mencakup rumah ibadah dan arsip luar negeri yang jarang digunakan.

"Kami ingin menghadirkan Jepara melalui perspektif sejarah lokal yang selama ini terabaikan. Jepara memiliki posisi penting dalam sejarah global sejak berabad-abad lalu," ujar Arif.

Menurut Arif, seni ukir lahir dari perjalanan panjang hubungan perdagangan dan peradaban. Ia menyebut karya ukir merupakan puncak strategi budaya yang dibangun masyarakat Jepara.

Yasraf Amir Piliang menilai buku tersebut menghadirkan pendekatan berbeda dibanding kajian seni ukir sebelumnya. Fokus pembahasannya bukan hanya karya seni, melainkan Jepara sebagai sebuah peradaban.

"Objek buku ini adalah Jepara yang dibaca melalui seni ukir. Pendekatan itu memperlihatkan proses sosial, budaya, dan sejarah yang saling membentuk, " kata Yasraf Amir Piliang, selaku salah satu Pembedah buku.

Yasraf mengatakan identitas Jepara terbentuk melalui pertemuan berbagai kebudayaan selama berabad-abad. Meski terus berubah, Jepara tetap mempertahankan nilai dasar yang menjadi identitasnya.

"Jepara menunjukkan proses percampuran budaya tanpa kehilangan jati dirinya. Nilai spiritual tetap menjadi fondasi perkembangan seni ukir Jepara," ujar Yasraf.

Pembedah buku lainnya, Suwarno Wisetrotomo, menyebut buku tersebut penting sebagai pijakan menyusun masa depan Jepara. Menurutnya, hasil riset perlu diterjemahkan menjadi kebijakan pelestarian yang berkelanjutan.

"Buku ini harus menjadi dasar menyusun peta jalan seni ukir Jepara. Jepara membutuhkan strategi agar tradisi ukir tetap hidup pada generasi berikutnya," kata Suwarno Wisetrotomo.

Suwarno berharap lahir langkah konkret setelah penerbitan buku dan penyelenggaraan pameran TATAH. Ia menilai seni ukir harus dipandang sebagai identitas budaya yang terus dikembangkan, bukan sekadar komoditas ekonomi. (Agnes Claudia Ohoira).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....