BMKG Minta PLTA Atur Penggunaan Air Antisipasi Lonjakan Listrik saat El Nino
- 30 Jul 2026 19:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG mengimbau pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia agar merencanakan penggunaan air secara terukur untuk menjaga keandalan pasokan listrik selama fenomena El Nino.
- Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan informasi prakiraan curah hujan menjadi faktor penting dalam menyusun strategi pengelolaan air di waduk.
- Kemen ESDM optimistis langkah antisipasi melalui efisiensi penggunaan air sejak dini dapat menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia agar merencanakan penggunaan air secara terukur. Hal ini penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik selama fenomena El Nino.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan informasi prakiraan curah hujan menjadi faktor penting dalam menyusun strategi pengelolaan air di waduk. Mengingat cuaca panas saat El Nino biasanya memicu lonjakan konsumsi listrik di tengah menurunnya cadangan air.
"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA,"kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 30 Juli 2026. "Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," katanya menambahkan.
Menurutnya, peningkatan suhu udara selama musim kemarau akan mendorong kenaikan beban puncak listrik akibat meningkatnya penggunaan pendingin ruangan oleh masyarakat. Di sisi lain, produksi listrik dari PLTA berpotensi terganggu apabila debit air waduk dan danau terus menyusut tanpa strategi pengelolaan yang tepat.
Karena itu, BMKG mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, serta para pengelola bendungan memanfaatkan pembaruan data iklim. Hal ini sebagai dasar dalam mengatur pola pengoperasian turbin air.
Ardhasena menegaskan, manajemen alokasi air yang presisi menjadi kunci agar pasokan listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati puncak musim kemarau. "Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," ujarnya.
Ia optimistis langkah antisipasi melalui efisiensi penggunaan air sejak dini dapat menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. Meski menghadapi tekanan cuaca panas akibat El Nino.
Sementara itu, Direktorat Klimatologi BMKG melaporkan fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan dan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Bahkan, prediksi terbaru menunjukkan adanya peluang El Nino berkembang melampaui kategori kuat sehingga potensi dampaknya terhadap iklim Indonesia perlu terus diwaspadai.
Berdasarkan pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026, musim kemarau juga semakin menguat. BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan wilayah yang masih mengalami musim hujan tinggal 77 ZOM.
Secara spasial, musim kemarau telah mendominasi wilayah selatan khatulistiwa, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua. Sejumlah wilayah bahkan telah memasuki kategori hari tanpa hujan yang tinggi.
"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, di mana musim kemarau umumnya bermula dari Nusa Tenggara Timur. Kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat," kata Ardhasena.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....