BMKG: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Berdurasi Lebih Panjang

  • 30 Jul 2026 16:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau lebih kering dan berdurasi lebih panjang pada 2026
  • El Nino diperkirakan mencapai kategori kuat pada akhir 2026, namun dampaknya terhadap Indonesia hanya terjadi selama musim kemarau
  • Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus–September, sementara 509 zona musim telah memasuki musim kemarau hingga pertengahan Juli 2026

RRI.CO.ID, Jakarta – BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal pada 2026. Selain itu, ratusan zona musim diperkirakan mengalami durasi kemarau lebih panjang dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi mengatakan fenomena El Nino diperkirakan mencapai kategori kuat pada akhir 2026 dan bertahan hingga kuartal pertama 2027. Namun, ia menegaskan dampak El Nino terhadap Indonesia hanya terjadi ketika bertepatan dengan musim kemarau.

"Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal. Atau lebih kering dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya," kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Ardhasena menjelaskan tidak semua wilayah Indonesia mengalami pola musim kemarau yang sama. Menurutnya, wilayah di sekitar ekuator masih berpotensi menerima hujan karena memiliki karakteristik iklim berbeda dengan wilayah selatan khatulistiwa lainnya.

"El Nino masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tetapi dampaknya terhadap Indonesia hanya terjadi ketika bertepatan dengan musim kemarau. Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 akan berakhir sekitar pertengahan Oktober dan berlanjut memasuki musim hujan pada November," ujar Ardhasena.

Sebagai informasi, BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus hingga September. Sekitar 48,8 persen zona musim diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus, sedangkan sekitar 25 persen lainnya mengalaminya pada September.

Adapun wilayah yang memasuki puncak musim kemarau didominasi kawasan di selatan garis khatulistiwa. Di antaranya sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 zona musim atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebagian besar berada di selatan garis khatulistiwa, sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Pulau Papua.

Sementara itu, masih terdapat 77 zona musim yang belum memasuki musim kemarau karena masih mengalami hujan. Wilayah tersebut umumnya berada di sekitar garis khatulistiwa yang memiliki pola iklim ekuatorial.

BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 zona musim diperkirakan mengalami durasi kemarau lebih panjang dari kondisi klimatologis biasanya.

Selain itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan informasi prakiraan iklim untuk menyusun langkah antisipasi. Upaya tersebut meliputi penyesuaian pola tanam, pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan, hingga mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....