Kemkomdigi Himpun Masukan Terkait Tata Kelola Hak Cipta di Era Perkembangan AI

  • 30 Jul 2026 06:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Komunikasi dan Digital sedang menyusun tata kelola hak cipta yang komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari industri kreatif dan teknologi.
  • Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor pendorong utama dalam revisi kerangka kerja hak cipta Indonesia untuk memastikan perlindungan yang sesuai dengan era digital.
  • Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria aktif mendengarkan masukan dari perusahaan teknologi global seperti Google dan pemain industri lokal dalam merancang regulasi yang seimbang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), menghimpun sejumlah masukan dari berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan tata kelola hak cipta. Hal ini menjadi penting, di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Wakil Menteri Komdigi (Wamenkomdigi), Nezar Patria mendengarkan berbagai pandangan dari para pelaku industri. Salah satunya yakni pandangan Google, dalam menyikapi sejumlah persoalan terkait tata kelola hak cipta.

Dalam kesempatan itu Wamenkomdigi menyoroti persoalan terkait pelindungan karya jurnalistik, penggunaan AI. Selain itu, berbagai pilihan mekanisme kerja sama, antara platform digital dan perusahaan media.

"Kami prihatin terhadap beberapa isu yang menjadi perbincangan di kalangan komunitas media. Kami ingin mendengar pandangan dan rencana Anda. Kami juga menghargai kontribusi besar Google dalam menjaga ekosistem media di Indonesia tetap sehat," kata Nezar dalam keterangan resminya, Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

Wamenkomdigi lebih lanjut menuturkan, bahwa pemerintah tengah mencermati dampak perkembangan AI terhadap keberlanjutan industri media. Sebab diungkapkannya dalam konteks itu, terdapat sejumlah perusahaan pers yang melaporkan terjadinya penurunan trafik pembacanya.

Hal itu dijelaskan Nezar, berdampak pada pendapatan perusahaan pers. Sehingga ditegaskannya, diperlukan model bisnis baru yang mampu menjawab perubahan ekosistem digital yang berkesinambungan.

"Kekhawatiran terbesar para pengelola situs saat ini yang berkaitan dengan AI adalah penurunan trafik. Beberapa bahkan melaporkan kehilangan sekitar 70 persen trafik sehingga mereka membutuhkan skema model bisnis baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi ini," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....