Waspada! BMKG: Awan Cumulonimbus Potensi Picu Cuaca Ekstrem hingga 4 Agustus 2026

  • 29 Jul 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG memperingatkan, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 29 Juli 2026 hingga 4 Agustus 2026.
  • Melansir laman resmi BMKG, awan Cumulonimbus tersebut memiliki cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori frequent (FRQ).
  • Awan Cumulonimbus diprakirakan, muncul di Kalimantan Barat, Samudra Hindia barat Aceh, dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai.

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG memperingatkan, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 29 Juli-4 Agustus 2026. Meskipun saat ini wilayah memasuki musim kemarau, masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dipicu oleh kemunculan awan tersebut.

Melansir laman resmi BMKG, awan Cumulonimbus tersebut memiliki cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori frequent (FRQ). Awan Cumulonimbus diprakirakan, muncul di Kalimantan Barat, Samudra Hindia barat Aceh, dan Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai.

Sementara itu, awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial 50 hingga 75 persen atau kategori occasional (OCNL) diprediksi berkembang di sejumlah wilayah daratan. Dan juga, diprediksi muncul di wilayah perairan Indonesia.

Wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori OCNL meliputi:

• Aceh

• Sumatra Utara

• Sumatra Barat

• Riau

• Jambi

• Bengkulu

• Kalimantan Barat

• Kalimantan Tengah

• Kalimantan Timur

• Kalimantan Utara

• Papua

• Papua Barat

• Papua Barat Daya

• Papua Tengah

• Papua Pegunungan.

Selain wilayah daratan, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus juga diprakirakan terjadi di sejumlah kawasan perairan, yakni:

• Laut Jawa bagian barat

• Laut Natuna Utara

• Selat Karimata bagian utara

• Selat Makassar bagian tengah

• Selat Malaka bagian tengah dan utara

• Samudra Hindia barat Aceh

• Samudra Hindia barat Bengkulu

• Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai

• Samudra Hindia barat Kepulauan Nias

• Samudra Pasifik utara Papua.

BMKG menjelaskan, informasi mengenai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca penerbangan. Data tersebut, dihasilkan melalui pemodelan cuaca numerik untuk memantau sebaran awan Cumulonimbus dalam jangka waktu tujuh hari ke depan.

Kemunculan awan Cumulonimbus umumnya berkaitan dengan potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, hingga turbulensi yang dapat memengaruhi aktivitas penerbangan. Karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....