BMKG Siapkan Strategi Perpendek Kemarau Ekstrem

  • 29 Jul 2026 04:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan strategi untuk menekan dampak kemarau panjang yang terjadi diwilayah Jabodetabek
  • Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan strategi untuk menekan dampak kemarau panjang yang terjadi diwilayah Jabodetabek. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan pelaksanaan OMC di Jakarta dan sekitarnya bersifat situasional. OMC dilakukan jika kemarau terus berkepanjangan.

"Kalau di Jakarta situasional ya, jadi BMKG bekerjasama dengan BPBD DKI Jakarta itu secara situasional melihat situasi yang ada di Jakarta. Jadi ketika memang kondisinya sudah hari tanpa hujan cukup panjang, maka dilakukan operasi modifikasi cuaca," ujarnya, Selasa 28 Juli 2026.

Menurutnya, keberadaan awan menjadi syarat utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Tanpa awan, hujan buatan tidak bisa dilakukan.

"Dengan catatan ketika awan masih ada ya. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi, sehingga nantinya bisa membuat Jakarta lebih adem," ucapnya.

Selain memanfaatkan OMC, BMKG juga telah memasang Ground Based Generator (GBG) di sejumlah gedung tinggi di Jakarta. Teknologi ini digunakan untuk membantu memicu hujan ketika terdapat awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.

"Karena begini, di beberapa gedung tinggi di Jakarta, bekerjasama BMKG juga dengan BPBD DKI Jakarta. Itu kita juga memasang namanya Ground Based Generator," kata dia.

"Jadi ketika nanti ada awan yang kira-kira sehat untuk menghujankan Jakarta. Maka akan dilepaskan uap air atau flare untuk kemudian terjadi hujan."

Faisal mengaku langkah tersebut juga menjadi upaya menjaga kualitas udara saat kemarau berkepanjangan. Sebab, kualitas udara di Jakarta umumnya memburuk apabila hujan tidak turun selama dua hingga tiga pekan.

"Ini biasanya kalau dalam 2-3 minggu tanpa hujan sama sekali, kualitas udara di Jakarta juga menurun. Jadi salah satu upayanya adalah dengan melakukan hujan pada saat kondisinya memungkinkan di Jakarta," ujarnya.

Sementara Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Hartantomemprediksi musim kemarau di wilayah Tangerang Raya akan berlangsung hingga Oktober 2026. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan potensi kekeringan yang meningkat.

Hartanto mengaku berdasarkan hasil pemantauan, salah satu wilayah terdampak adalah Tangerang Raya. Kondisi musim kering diperkirakan bertahan selama beberapa bulan ke depan.

"Berdasarkan informasi yang kami pantau, prediksi musim kemarau untuk wilayah Tangerang Raya berlangsung kurang lebih hingga Oktober 2026. Dengan puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus," kata Hartanto.

Ia menjelaskan menguatnya musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang aktif. Sehingga meningkatkan potensi kekeringan dibandingkan kondisi normal.

"Musim kemarau memang lazim terjadi pada Juli hingga Oktober. Namun, intensitas kekeringan tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang aktif," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....