BMKG: Saat ini El Nino Masuk Kategori Kuat

  • 29 Jul 2026 02:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino kini telah memasuki kategori kuat.
  • Kondisi tersebut mendorong pemerintah mempercepat langkah antisipasi melalui operasi modifikasi cuaca.
  • BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta sejumlah mitra swasta melaksanakan operasi modifikasi cuaca di berbagai daerah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino kini telah memasuki kategori kuat. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mempercepat langkah antisipasi melalui operasi modifikasi cuaca.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko kekeringan sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan El Nino dinyatakan aktif ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Saat ini, lanjutnya, indikator tersebut menunjukkan El Nino telah berada pada level kuat. Sehingga memerlukan kewaspadaan yang lebih tinggi.

"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat, jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," ujar Faisal, Selasa 28 Juli 2026.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta sejumlah mitra swasta melaksanakan operasi modifikasi cuaca di berbagai daerah. Upaya ini difokuskan untuk meningkatkan ketersediaan air di waduk-waduk yang menjadi penopang kebutuhan irigasi, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan air bersih.

Menurut Faisal, Indonesia memiliki sekitar 240 waduk yang menjadi sasaran pengisian cadangan air melalui rekayasa cuaca. "Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," katanya.

Selain mengatasi ancaman kekeringan, BMKG juga mengintensifkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah terjadinya karhutla. Khususnya, di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar saat musim kering.

Enam provinsi menjadi prioritas pelaksanaan operasi tersebut, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, modifikasi cuaca juga dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan Aceh sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi," ucap Faisal.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino kuat. Terutama potensi berkurangnya pasokan air dan meningkatnya risiko kebakaran hutan serta lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pemerintah mengantisipasi potensi dampak El Nino. Antisipasi tersebut di antaranya adalah Operasi Modifikasi Cuaca dan menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) baik darat maupun udara.

"Kita ingin memastikan bahwa pemerintah juga siap dengan Satgas. Termasuk dengan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca," kata Menteri Agus Harimurti Yudhoyono.

Menteri AHY berharap dengan modifikasi cuaca akan memadamkan titik api yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan gambut. Selanjutnya debit air di bendungan atau waduk tetap aman.

"Melalui Operasi Modifikasi Cuaca dengan metodologi yang diharapkan bisa segera memadamkan titik-titik api. Termasuk Operasi Modifikasi Cuaca untuk memastikan debit air di bendungan dan waduk, danau dalam status yang aman," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....