Kader Senior NU Tekankan Pentingnya Netralitas dalam Muktamar PBNU
- 27 Jul 2026 00:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Kader senior Nahdlatul Ulama (NU), Abdul Hamid Rahayaan menekankan, pentingnya menjaga netralitas dalam Muktamar PBNU mendatang. Menurutnya, independensi organisasi menjadi kunci menjaga persatuan warga Nahdliyin.
Hamid mengaku prihatin terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar PBNU. Ia berharap seluruh proses berjalan secara adil dan mengutamakan kepentingan organisasi.
"Sebagai warga Nahdliyin yang sudah 25 tahun mengabdi, saya sangat prihatin melihat kondisi NU saat ini. Saya mengimbau kepada Kyai Miftach, Gus Yahya, Saifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa untuk bersikap fair," kata Hamid dalam keterangannya, Minggu, 26 Juli 2026.
@Jika memang cinta NU, sebaiknya tidak perlu mencalonkan diri lagi. Cukup lima tahun ini, jangan biarkan perpecahan di antara warga NU terus berlanjut."
Selain itu, Hamid mengingatkan, seluruh pihak agar menjaga Muktamar dari kepentingan politik praktis. Menurutnya, NU perlu tetap berdiri sebagai organisasi keagamaan yang independen.
Ia juga meminta tokoh-tokoh politik menghormati proses demokrasi yang berlangsung di lingkungan NU. Hamid berharap tidak ada kepentingan partai yang memengaruhi pemilihan kepemimpinan organisasi.
"Serahkan NU kepada orang-orang yang netral dan tidak terikat dengan partai politik untuk mengendalikan organisasi ini. Kita tidak ingin NU dibawa ke politik praktis," ujarnya.
Dalam pandangannya, figur pemimpin mendatang perlu memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat. Figur tersebut juga diharapkan diterima luas oleh warga NU di tingkat nasional maupun internasional.
Hamid menyebut Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar, sebagai salah satu sosok yang dinilai memenuhi kriteria tersebut. Selain itu, ia juga menilai KH Marsudi Syuhud memiliki pengalaman panjang dalam memimpin organisasi keagamaan.
Menurut Hamid, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas manajerial dan pengalaman yang memadai. Keduanya juga dinilai memiliki posisi yang relatif independen dari kepentingan politik praktis.
Menjelang Muktamar, Hamid mengimbau pengurus wilayah dan cabang NU menggunakan hak suara secara bijaksana. Ia berharap peserta memilih pemimpin yang mampu menjaga persatuan organisasi.
"Saya mengimbau seluruh peserta Muktamar dari wilayah dan cabang di seluruh Indonesia agar sangat berhati-hati dalam memilih figur pemimpin. Jika kita ingin keluar dari polemik dan konflik internal, pilihlah figur yang netral," ucapnya.
Hamid mengharapkan, Muktamar PBNU menjadi momentum memperkuat soliditas organisasi. Menurutnya, kepemimpinan yang independen akan membantu NU tetap fokus menjalankan peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....