KUII 2026, Wamenko Polkam Lodewijk Tegaskan Politik Adalah Ibadah
- 25 Jul 2026 22:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamenko Polkam RI Lodewijk F. Paulus menegaskan politik sejatinya merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara, bukan sarana untuk mengejar kekayaan maupun kekuasaan.
- Politik yang berorientasi pada pengabdian akan melahirkan kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) RI Lodewijk F. Paulus menegaskan politik sejatinya merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. Bukan sarana untuk mengejar kekayaan maupun kekuasaan.
Hal itu disampaikan Lodewijk saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII hari kedua di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu 25 Juli 2026. Lodewijk menilai tantangan politik nasional tidak hanya berasal dari dinamika geopolitik global, tetapi juga dari kualitas praktik politik di dalam negeri.
Menurutnya, pembangunan sistem politik Indonesia harus berangkat dari paradigma yang benar mengenai hakikat politik. “Politik adalah ibadah pengabdian, bukan jalan kekayaan atau kekuasaan,” ujarnya.
Lodewijk menjelaskan, politik yang berorientasi pada pengabdian akan melahirkan kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebaliknya, apabila politik hanya dipandang sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan, praktik politik transaksional dan berbagai bentuk penyimpangan akan terus berulang.
Dalam kesempatan tersebut, Lodewijk juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia. Di antaranya politik transaksional berbiaya tinggi, kampanye negatif dan hitam, oligarki, politik dinasti, hingga demokrasi yang dinilai masih sebatas prosedural.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi pekerjaan bersama untuk membangun sistem politik yang lebih sehat dan berkeadilan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen umat Islam membangun paradigma politik yang menempatkan kepentingan bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepentingan umat.
“Kesadaran bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah bagian dari kepentingan umat,” ujarnya.
Selain membangun paradigma tersebut, Lodewijk mendorong pendidikan politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam Wasathiyah dan Rahmatan lil 'Alamin.
Masyarakat, lanjutnya, perlu didorong untuk memilih pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas, dan program kerja. Bukan karena janji politik ataupun praktik politik uang.
Lebih lanjut, Lodewijk mengajak seluruh komponen bangsa. Khususnya umat Islam, memperkuat sinergi antara partai politik, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh masyarakat, dan penyelenggara negara.
Sinergi tersebut diperlukan untuk menghadirkan demokrasi yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Menurut Lodewijk, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila sistem politik nasional mampu menghasilkan pemerintahan yang bermoral, transparan, berkeadilan, dan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat.
Ia mengingatkan, perbaikan bangsa harus dimulai dari perbaikan kualitas politik dan partisipasi umat dalam kehidupan berbangsa. “Tidak ada perbaikan politik tanpa perbaikan diri kita sendiri, dan tidak ada perbaikan bangsa tanpa peran aktif umat,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....