MUI Ingatkan Bahaya Belajar Agama Lewat AI Tanpa Didampingi Guru
- 24 Jul 2026 22:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- MUI mengingatkan masyarakat mengenai bahaya mempelajari ilmu agama hanya dengan mengandalkan teknologi digital kecerdasan buatan (AI).
- Masyarakat dinilai perlu memiliki kemampuan untuk memilah dan memastikan keabsahan informasi yang mereka konsumsi, termasuk informasi keagamaan.
- Cholil menegaskan bahwa mesin cerdas tidak dapat menggantikan peran ulama atau guru agama yang memiliki kompetensi keilmuan sekaligus keteladanan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat mengenai bahaya mempelajari ilmu agama hanya dengan mengandalkan teknologi digital kecerdasan buatan (AI). Terlabih jika hal tersebut dilakukan tanpa bimbingan guru atau ulama yang kompeten.
Wakil Ketua Umum MUI, KH. Muhammad Cholil Nafis mengatakan, MUI mencanangkan konsep “jihad digital” sebagai langkah strategis. Guna memastikan masyarakat memperoleh informasi keagamaan dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal itu disampaikan Cholil di sela-sela kegiatan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, Jumat 24 Juli 2026. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat arah perjuangan umat Islam ke depan juga harus menyasar ruang digital.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah dan memastikan keabsahan informasi yang mereka konsumsi. Termasuk informasi keagamaan.
Cholil mengatakan, teknologi AI maupun media digital dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi atau sarana untuk memperoleh informasi awal. Namun, teknologi tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya sandaran dalam mempelajari agama.
“Belajar agama itu butuh transmisi keilmuan yang disebut dengan sanad. Ada yang menjamin bahwa itu benar, orisinal, dan valid. Sementara dari media (AI) itu sering kita lihat mungkin sebagian benar, tapi sebagian salah,” katanya.
Karena itu, Cholil menegaskan bahwa mesin cerdas tidak dapat menggantikan peran ulama. Atau guru agama yang memiliki kompetensi keilmuan sekaligus keteladanan.
“Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustadz yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin,” ujar Cholil.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar mengatakan kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan dan profesi kini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan digitalisasi. Menurut Anwar, kemajuan teknologi memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia.
Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif yang perlu diantisipasi.
Karena itu, ia mendorong umat Islam untuk tidak bersikap pasif dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Ruang-ruang digital, kata dia, harus diisi dengan pesan-pesan moral dan dakwah yang membangun. “Kita ingin agar digitalisasi di negara ini, sebesar-besarnya akan kita isi dengan dakwah untuk membangun bangsa yang sebaik-baiknya,” ucap Anwar.
Untuk mendukung misi dakwah di ruang siber, MUI juga telah menjalin kerja sama dengan kalangan akademisi. Salah satunya Universitas Indonesia (UI).
Anwar mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan konten dakwah yang bermartabat di tengah perkembangan teknologi, termasuk AI yang diperkirakan semakin dibutuhkan masyarakat pada masa mendatang. “Terutama AI yang menjadi kebutuhan ke depan, akan kita isi dengan dakwah yang bermartabat,” kata Anwar Iskandar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....