Wamenkomdigi: Indonesia Tidak Boleh Terlambat Masuk Rantai Pasok AI Global
- 25 Jul 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemkomdigi menekankan pentingnya Indonesia berperan aktif dalam rantai pasok industri kecerdasan buatan untuk tidak tertinggal dalam ekosistem global.
- Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan bahwa persaingan AI saat ini tidak hanya terkait pengembangan aplikasi tetapi juga keterlibatan dalam seluruh rantai nilai.
- Indonesia perlu segera masuk ke dalam ekosistem rantai pasok AI karena kompetisi industri AI terus berkembang dengan cakupan lebih luas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan, pentingnya Indonesia berperan aktif, dalam rantai pasok industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Komdigi (Wamenkomdigi), Nezar Patria dalam acara Grab Venture Velocity Batch 9, di Jakarta.
Ia menekankan bahwa dalam peranan aktif tersebut, Indonesia tidak boleh terlambat untuk masuk kedalam ekosistem rantai pasok. Sebab dijelaskan Wamenkomdigi, bahwa saat ini persaingan AI tidak lagi hanya terkait pengembangan aplikasi.
Namun dikatakannya, bahwa persaingan saat ini telah bergeser, kedalam penguasaan semikonduktor, pusat data, dan mineral kritis. Dengan penguasaan sejumlah sektor tersebut, akan menentukan posisi negara dalam tatanan ekonoi digital dunia.
"Yang paling penting lagi adalah, jangan terlambat untuk masuk ke dalam global supply chain. Termasuk AI," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026.
Bahkan hal itu diungkapkannya, juga akan mempengaruhi pengembangan sejumlah ekosistem dalam dunia digital lainnya. Seperti salah satunya dijelaskan Nezar, yakni perubahan dalam pengembangan startup (usaha rintisan).
Ia mengatakan bahwa jika sebelumnya, perusahaan rintisan hanya berorientasi pada valuasi dan pertumbuhan yang agresif. Namun saat ini dijelaskannya, telah bergeser pada pembangunan bisnis yang berkelanjutan dengan fondasi yang kuat.
"AI kali ini menjadi driving process untuk bertumbuhnya startup-startup. Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI," ujar Wamenkomdigi.
Namun dalam penguasaan AI ini diungkapkannya, juga membutuhkan dukungan kesiapan sarana dan prasarana infrastruktur digital. Utamanya diterangkan Nezar, yakni dukungan pusat data, Graphics Processing Unit (GPU), dan industri semikonduktor.
Selain itu, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis dan pasir silika yang harus segera dilakukan hilirisasi. Dengan kekayaan mineral ini diyakini Nezar, akan memperkuat daya tawar Indonesia yang lebih kuat, dalam persaingan teknologi dunia.
"Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam global supply chain di industri semikonduktor. Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion buat kita," imbuh Wamenkomdigi Nezar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....