BPOM Perkuat Industri Farmasi Nasional Lewat Kolaborasi Strategis TCBI
- 25 Jul 2026 11:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM menegaskan komitmen memperkuat industri biofarmasi nasional melalui regulasi kredibel, inovasi, dan iklim investasi yang kondusif
- Pembentukan PT Tempo Chia Tai Tianqing (CTTQ) Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) diharapkan menjadi tonggak pengembangan biofarmasi sekaligus mengurangi ketergantungan impor obat
- Status WHO-Listed Authority (WLA) memperkuat kredibilitas BPOM dan membuka peluang produk farmasi Indonesia menembus pasar global
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM memperkuat industri biofarmasi nasional melalui regulasi kredibel, percepatan inovasi, dan iklim investasi kondusif. Komitmen tersebut disampaikan saat peresmian PT Tempo Chia Tai Tianqing (CTTQ) Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026.
Perusahaan hasil kolaborasi Tempo Scan Group dengan Sino Biopharmaceutical Limited itu diharapkan menjadi tonggak penting pengembangan industri biofarmasi nasional. Sinergi melalui pembentukan TCBI juga diharapkan memperkuat iklim investasi sekaligus mendukung kemandirian industri farmasi Indonesia pada masa mendatang.
Indonesia dinilai masih membutuhkan penguatan kapasitas produksi farmasi dalam negeri karena ketergantungan terhadap produk impor tetap sangat tinggi. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi BPOM mempercepat pengembangan industri farmasi nasional agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
"Indonesia saat ini memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam pengembangan industri farmasi, kita memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Ketika masyarakat sakit, mereka membutuhkan obat-obatan sehingga penguatan industri farmasi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak," ujar Taruna dalam sambutannya di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026.
Berdasarkan data BPOM, sekitar 90 persen produk farmasi berbasis sintesis kimia masih diimpor dari luar negeri. Produk biologis, termasuk biosimilar, bahkan hampir 100 persen masih berasal dari luar negeri dengan kebutuhan terus meningkat.
"Melihat target obat-obatan yang akan dikembangkan melalui joint venture ini sangat luar biasa. Ini sangat membantu masyarakat, terutama untuk terapi kanker dan diabetes yang masih didominasi produk impor," katanya.
Taruna menambahkan BPOM tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga membangun ekosistem regulasi yang mempercepat inovasi industri. Keberhasilan memperoleh pengakuan WHO-Listed Authority menempatkan Indonesia sejajar dengan regulator obat terbaik di dunia.
"Ini bukan sekadar kebanggaan Indonesia. Status WLA memberikan nilai ekonomi yang tinggi karena produk yang telah disahkan BPOM, memiliki kredibilitas untuk memasuki pasar global," ucap Taruna.
Pada tahap awal, TCBI memprioritaskan komersialisasi produk, pengembangan pasar, pemenuhan regulasi, serta pelaksanaan uji klinis di Indonesia. Selanjutnya perusahaan secara bertahap melakukan alih teknologi dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur Tempo Scan memproduksi obat biologis domestik.
Kolaborasi pemerintah, regulator, dan industri diharapkan menjadi fondasi kemajuan biofarmasi nasional melalui investasi strategis serta transfer teknologi. Dukungan sistem pengawasan BPOM yang diakui dunia memperkuat kesiapan Indonesia meningkatkan daya saing industri farmasi pada tingkat global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....