BPOM Ungkap Tiga Manfaat Kerja Sama dengan USP bagi Pengawasan Obat dan Pangan
- 22 Jul 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM menyebut kerja sama dengan United States Pharmacopeia (USP) sejak Mei 2025 memperkuat kualitas pengawasan obat dan pangan di Indonesia
- Penggunaan standar USP memudahkan BPOM karena memiliki referensi internasional yang diakui sekaligus meningkatkan kepercayaan global
- Kolaborasi mencakup pengembangan SDM, alih teknologi, serta pembaruan laboratorium BPOM melalui dukungan Asian Development Bank
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan kerjasama BPOM dengan United States Pharmacopeia (USP) telah terlaksana sejak Mei 2025. Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan sejumlah manfaat konkret yang mendukung peningkatan kualitas pengawasan obat dan pangan di Indonesia.
Taruna menjelaskan, manfaat pertama dari kerja sama itu adalah penggunaan standar USP sebagai acuan. Dengan mengacu pada standar tersebut, BPOM tidak perlu lagi menyusun standar secara berulang karena telah memiliki referensi yang diakui.
"Dari USP standar, misalnya produk kemikal, produk biologi, dan sebagainya, kita ada parameter standar, itu yang keuntungan pertama. Tidak perlu lagi kita melakukan tera ulang di negara kita, karena kita sudah ada referensi,” ujarnya usai kegiatan MoU simposium BPOM-USP di Jakarta Timur, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia mengatakan, penggunaan referensi USP juga meningkatkan kepercayaan internasional terhadap standar yang diterapkan BPOM. Menurutnya, hal itu menjadi nilai tambah karena USP merupakan lembaga yang memiliki reputasi dan kredibilitas tinggi di dunia.
Selain itu, Taruna menyebut kerja sama tersebut turut memperkuat pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai program pelatihan. Pegawai BPOM diberi kesempatan mengikuti pembelajaran di Amerika, India, maupun negara lain yang ditunjuk oleh USP.
Ia menjelaskan, pelatihan difokuskan pada penguasaan teknologi produk biologi, termasuk terapi genetik, terapi RNA, terapi DNA, dan biosimilar. Menurutnya, USP juga membagikan pengetahuan kepada pegawai BPOM tanpa memungut biaya sehingga menjadi keuntungan tambahan.
“Kalau produk-produk yang lama kan kita sudah biasa di fakultas farmasi sudah diajarkan. Tapi standar-standar baru kayak terapi genetik, terapi RNA, terapi DNA, terapi dendritik, terapi biologi, biosimilar itu susah bange, dia punya ilmunya,” kata Taruna.
Taruna menambahkan, kerja sama itu juga mencakup alih teknologi serta pembaruan laboratorium BPOM melalui kolaborasi dengan Asian Development Bank. Ia menegaskan, sedikitnya tiga manfaat konkret telah dirasakan BPOM dari kerja sama tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada USP.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....