ABU Dorong Setiap Media Miliki Kebijakan AI untuk Ruang Redaksi
- 23 Jul 2026 11:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- ABU mendorong setiap organisasi media memiliki kebijakan AI yang jelas di ruang redaksi.
- Penggunaan AI harus disertai verifikasi fakta, etika jurnalistik, dan pengawasan manusia untuk mencegah kesalahan informasi.
- ABU memfasilitasi anggotanya berbagi praktik terbaik dalam penyusunan kebijakan dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kebijakan penggunaan AI di ruang redaksi harus dilakukan secara seimbang agar dapat menjaga kepercayaan publik. Hal ini disampaikan Direktur Pemberitaan Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU), Indra Singh, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, industri penyiaran perlu menemukan keseimbangan dalam memanfaatkan AI. Teknologi ini, tambahnya, tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menurut saya, penting bagi Broadcaster untuk menemukan cara yang seimbang menggunakan AI. Kami menggunakan AI, tapi kita menggunakannya dengan bertanggung jawab,” ucap Indra saat diwawancarai rri.co.id.
Kebijakan AI bertujuan jurnalis dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan peran manusia dalam proses jurnalistik. Terutama dengan tetap mengedepankan verifikasi fakta, etika, dan pengawasan manusia.
Ia mengingatkan penggunaan AI yang tidak tepat berpotensi menghasilkan informasi yang keliru. Termasuk konten hasil manipulasi seperti deepfake, yang dapat merusak reputasi media.
“Kepercayaan publik merupakan aset utama media,” kata Indra. Karena itu, setiap ruang redaksi perlu memiliki pedoman yang mengatur batasan penggunaan AI agar kualitas pemberitaan tetap terjaga.
ABU sendiri telah menyusun kebijakan internal mengenai AI serta memfasilitasi lebih dari 220 anggota. Tujuannya untuk saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam penerapan AI di industri penyiaran.
Sebelumya, hal senada juga disampaikan oleh Analis Hukum Ahli Muda DJKI, Kemenkum RI, Achmad Iqbal Taufiq. Menurutnya, kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai menjadi kepastian yang tidak bisa dihindari.
Karena itu, dibutuhkan kesamaan persepsi dan kerja sama dengan lintas sektor supaya pemakaiannya tetap pada pihak manusia. “Diharapkan ke depannya tidak ada kesalahan persepsi, bagaimana melihat AI, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah AI juga,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....