ABU Gelar Pertemuan IPLC Bahas Perlindungan Konten di Era Digital

  • 23 Jul 2026 12:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Forum membahas tantangan perlindungan konten, termasuk pembajakan dan distribusi ulang tanpa izin di era digital.
  • ABU mendorong penguatan strategi perlindungan hak kekayaan intelektual untuk menjaga nilai dan keberlanjutan konten penyiaran.
  • ABU menggelar Intellectual Property & Legal Committee (IPLC) Meeting di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta – Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU) menggelar Intellectual Property & Legal Committee (IPLC) Meeting, Kamis, 23 Juli 2026. Pertemuan ini diikuti anggota penuh, anggota penuh tambahan, dan anggota asosiasi ABU.

Dalam pertemuannya, mereka membahas penguatan perlindungan konten di tengah pesatnya perkembangan platform digital dan layanan streaming. ABU sendiri menilai perlindungan konten menjadi salah satu tantangan paling mendesak bagi industri penyiaran.

Selain pembajakan dan distribusi ulang tanpa izin, lembaga penyiaran juga menghadapi semakin kompleksnya pengelolaan hak kekayaan intelektual. Melalui forum tersebut, ABU membahas perlindungan konten, mekanisme penegakan hak, serta hak kekayaan intelektual di industri penyiaran.

Pembahasan juga diarahkan pada upaya menjaga kreativitas, pendapatan, dan nilai konten orisinal. Tujuannya agar tetap terlindungi di tengah perubahan lanskap media digital.

Direktur Pemberitaan Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU), Indra Singh menilai, industri penyiaran perlu menemukan keseimbangan dalam memanfaatkan AI. Teknologi ini, tambahnya, tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Menurut saya, penting bagi Broadcaster untuk menemukan cara yang seimbang menggunakan AI. Kami menggunakan AI, tapi kita menggunakannya dengan bertanggung jawab,” ucap Indra saat diwawancarai rri.co.id.

Kebijakan AI bertujuan jurnalis dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan peran manusia dalam proses jurnalistik. Terutama dengan tetap mengedepankan verifikasi fakta, etika, dan pengawasan manusia.

Ia mengingatkan penggunaan AI yang tidak tepat berpotensi menghasilkan informasi yang keliru. Termasuk konten hasil manipulasi seperti deepfake, yang dapat merusak reputasi media.

Kepala Layanan Hak Cipta dan Hak Terkait Radio Rumania, Gabriella Dobrescu, turut menyampaikan hal yang sama. “AI akan terus berkembang dan akan menjadi semakin canggih, tapi tanggung jawab editorial tetap berada di tangan manusia,” katanya.

Ia mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan semata-mata hanya persoalan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, tantangan utama justru terletak pada bagaimana institusi media menjaga kepercayaan publik sambil tetap menerima inovasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....