AI Dinilai Tak Dapat Dihindari, Kemenkum: Kolaborasi dan Adaptasi jadi Kunci

  • 22 Jul 2026 18:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemajuan AI dinilai tak terhindarkan dan perlu regulasi berorientasi pada kepentingan manusia.
  • Konferensi ABU IPLC ke-32 menyamakan persepsi serta mencari solusi atas tantangan AI.
  • Kolaborasi pemerintah, industri, dan komunitas kreatif dinilai penting untuk memastikan AI tetap etis dan bertanggung jawab.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai menjadi kepastian yang tidak bisa dihindari. Karena itu, dibutuhkan kesamaan persepsi dan kerja sama dengan lintas sektor supaya pemakaiannya tetap pada pihak manusia.

Hal ini menjadi pembahasan dalam 32nd ABU Intellectual Property & Legal Committee (IPLC) Conference. Pertemuan itu bertujuan untuk menyamakan pandangan mengenai perkembangan AI, sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan yang menyertainya.

“Diharapkan ke depannya tidak ada kesalahan persepsi, bagaimana melihat AI, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah AI juga. Dan bagaimana mungkin tadi ada pertanyaan terkait dengan data-data yang diambil, terus bagaimana mereka mengkompensasinya seperti itu,” ujar Analis Hukum Ahli Muda DJKI, Kementerian Hukum (Kemenkum) RI, Achmad Iqbal Taufiq, di Aula Yusuf Ronodipuro, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Menurut Achmad, pembahasan tersebut menjadi awal terbentuknya persatuan pandangan dalam menghadapi perkembangan AI. Pandangan serupa pun disampaikan oleh musisi Marcell Siahaan, yang menilai AI adalah isu di tingkat internasional.

“Intinya meregulasi bukan sekedar mengatur dan membentengi aja, tapi bagaimana mengawal supaya AI ini bisa berjalan dengan kemanusiaan. Pada akhirnya, kita disadarkan bahwa AI itu inevitable, nggak bisa dilawan karena kita akan kesana, cepat atau lambat,” kata Marcell.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kemampuan dasar yang kita miliki. Bagi Marcel, AI hanya sebuah alat dalam proses berkarya, sedangkan keterampilan, kreativitas, dan tanggung jawab berada di manusia.

Kehadiran forum tersebut membuat para peserta berharap akan ada kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku industri, sampai komunitas kreatif. Hal ini dilakukan agar perkembangan AI dapat memberikan banyak manfaat tanpa mengabaikan perlindungan etika, hak, dan kepentingan manusia. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....