Pengamat Menilai Twibbon MPLS Aman, Asal Tak Sertakan Identitas Pribadi Lengkap

  • 21 Jul 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pratama Persadha menilai unggahan Twibbon MPLS tidak berbahaya selama tidak memuat data pribadi secara lengkap
  • Risiko kejahatan siber meningkat apabila unggahan mencantumkan nama lengkap, alamat, asal sekolah, dan identitas orang tua
  • Masyarakat diimbau membatasi informasi pribadi di media sosial karena pelaku dapat melakukan doxing dan menyusun target phishing

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat keamanan siber Pratama Persadha menilai unggahan foto Twibbon (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) tidak otomatis membahayakan data pribadi. Menurutnya, foto bersama orang tua masih tergolong aman selama tidak disertai informasi pribadi yang lengkap.

“Kalau misalkan hanya muka, kemudian hanya fotonya sama orang tuanya, menurut saya sih nggak ada masalah. Karena untuk menjadikan itu data untuk dilakukan misalkan ‘social engineering’, itu butuh data-data yang lain lagi,” ujar pengamat keamanan siber sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha kepada RRI PRO3 di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.

Pratama menjelaskan risiko mulai muncul apabila unggahan mencantumkan nama lengkap, alamat, asal sekolah, serta identitas orang tua. Ia mengatakan pelaku kejahatan siber membutuhkan informasi tambahan untuk melakukan rekayasa sosial maupun menyusun profil calon korban.

Menurutnya, foto Twibbon umumnya tidak memiliki resolusi tinggi sehingga manfaatnya bagi pelaku manipulasi gambar relatif terbatas. Ia menilai gambar tersebut tidak akan memberikan pengaruh besar apabila hanya berupa foto sederhana bersama orang tua.

Ia mengingatkan masyarakat tetap tidak mempublikasikan data pribadi secara terlalu rinci melalui media sosial agar terhindar dari penyalahgunaan. Menurutnya, pelaku kejahatan siber mampu menggali informasi tambahan melalui berbagai akun media sosial milik korban.

“Karena sekarang sudah pintar-pintar ini, penjahat-penjahat itu sudah jago-jago dengan data-data yang tidak terlalu banyak. Dia bisa menggali sendiri, mereka menggali-gali sendiri, nyari akun-akun media sosialnya, mereka melakukan ‘doxing’,” ucapnya.

Pratama mendukung penggunaan Twibbon pada hari pertama MPLS sebagai bentuk kebanggaan anak bersama kedua orang tuanya. Namun, ia menegaskan masyarakat tetap harus membatasi informasi pribadi yang ditampilkan dalam setiap unggahan tersebut.

Ia menambahkan penyusunan ‘target phishing’ memerlukan kecocokan berbagai informasi, bukan hanya mengandalkan sebuah foto Twibbon semata. Menurutnya, kebocoran data pada berbagai layanan digital lebih berbahaya apabila dikaitkan dengan identitas pribadi yang lengkap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....