Ekonom Soroti Strategi Ketahanan Ekonomi Hadapi Turbulensi Global
- 17 Jul 2026 17:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- FORMAS menggelar Dialog Nasional membahas strategi memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah turbulensi global
- Prof. Ariawan Gunadi menilai transformasi ekonomi, hilirisasi, investasi strategis, dan penguatan daya saing menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global
- Ekonom Piter Abdullah menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik, namun persepsi risiko investor masih tinggi
- Risiko fiskal, tata kelola pemerintahan, dan kepercayaan pasar dinilai menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional
- Para narasumber optimistis Indonesia mampu menghadapi gejolak global dengan pengelolaan ekonomi domestik yang baik
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai bergantung pada reformasi dan pengelolaan risiko domestik. Gejolak ekonomi global dianggap membuka peluang sekaligus tantangan baru.
Ketua Yayasan Tarumanagara Ariawan Gunadi menilai transformasi ekonomi harus terus dipercepat. Langkah itu mencakup hilirisasi, investasi strategis, dan penguatan tata kelola.
"Turbulensi global tidak menentukan masa depan Indonesia. Keberanian bertransformasi dan membangun daya saing menjadi faktor penentunya," kata Ariawan dalam Dialog Nasional bertajuk "Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan?" di Auditorium Lantai 3 Universitas Tarumanagara (UNTAR) Kampus I, Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut Ariawan, perubahan rantai pasok global menghadirkan peluang bagi Indonesia. Peluang itu membutuhkan produktivitas, kepastian hukum, serta reformasi birokrasi.
Ia juga mendorong pembentukan Bursa Mineral Indonesia mulai awal 2027. Kebijakan itu diharapkan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan mineral.
Hilirisasi dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan industri nasional. Nilai ekspor logam berbasis nikel meningkat hampir sepuluh kali lipat sejak 2019.
Investasi strategis juga diarahkan menuju kecerdasan buatan, pusat data, dan energi terbarukan. Sektor tersebut diproyeksikan menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ekonom Senior Prasasti Center Piter Abdullah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Namun, persepsi risiko investor masih memberi tekanan terhadap pasar keuangan.
"Yang perlu dikelola adalah risiko dalam perekonomian domestik. Jika itu dilakukan baik, Indonesia mampu menghadapi turbulensi global," ujarnya.
Piter menilai risiko fiskal menjadi perhatian utama pelaku investasi. Beban utang, pelemahan rupiah, dan penerimaan negara memengaruhi kepercayaan pasar.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang akuntabel. Langkah tersebut dinilai mampu menekan persepsi risiko terhadap ekonomi nasional.
Penguatan reformasi, investasi, dan tata kelola dinilai menjadi fondasi menghadapi ketidakpastian global. Strategi tersebut diharapkan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....