BPOM Tegaskan Komitmen Kawal Kebijakan Pangan Berbasis Sains Nasional
- 16 Jul 2026 15:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen mengawal kebijakan pangan berbasis sains untuk menjamin keamanan, mutu, dan gizi masyarakat
- BPOM mendukung inovasi teknologi pangan, termasuk pengolahan modern, selama memenuhi standar keamanan, mutu, dan kandungan gizi
- BPOM memperkuat pengawasan pangan melalui Program Manajemen Risiko (PMR) dan kebijakan Nutri-Level untuk mendorong pangan yang lebih sehat
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen mengawal kebijakan pangan berbasis sains demi menjamin keamanan, mutu, dan gizi masyarakat. Komitmen tersebut menjadi upaya BPOM menghadapi berbagai tantangan global yang mempengaruhi ketahanan serta kualitas pangan nasional.
Komitmen itu disampaikan Taruna dalam Seminar Nasional bertema ‘Membangun Peradaban Teknologi Pangan Untuk Future and Healthy Food’. Seminar nasional tersebut diselenggarakan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) di Jakarta pada Selasa, 14 Juli 2026.
Taruna menjelaskan pangan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan sehingga negara wajib menjamin setiap produk tetap aman dikonsumsi. Ia mengatakan setiap pangan yang beredar juga harus memenuhi standar mutu serta memiliki kandungan gizi yang memadai.
Menurutnya, sektor pangan menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim, dinamika geopolitik global, pertumbuhan penduduk, serta persoalan gizi masyarakat. Karena itu, inovasi dan pengembangan teknologi pangan menjadi bagian penting menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat pada masa mendatang.
“Pangan aman, bermutu, dan bergizi adalah kewajiban. Sebagai regulator, BPOM akan konsisten memastikan bahwa setiap produk yang beredar memenuhi prinsip tersebut,” ujar Taruna dalam seminar tersebut, di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.
Taruna menjelaskan perkembangan teknologi pangan, termasuk berbagai metode pengolahan modern, harus dipandang sebagai bagian dari solusi nasional. Namun, setiap inovasi tetap wajib memenuhi standar keamanan, mutu, dan gizi yang telah ditetapkan BPOM.
Ia juga menanggapi perdebatan mengenai pangan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, BPOM tidak menolak perkembangan teknologi pangan selama hasil akhirnya memenuhi persyaratan keamanan dan kualitas.
“Yang terpenting adalah hasil akhirnya. Selama produk tersebut aman, bermutu, bergizi, dan diproduksi melalui proses yang terstandar, maka teknologi harus menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Taruna juga turut menyoroti pentingnya reformulasi produk pangan guna mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak yang berlebihan. Langkah tersebut diperkuat melalui implementasi kebijakan Nutri-Level yang diterbitkan BPOM membantu masyarakat memilih pangan lebih sehat.
Selain itu, BPOM terus memperkuat pengawasan pangan olahan berbasis risiko melalui Program Manajemen Risiko atau PMR. Pendekatan tersebut mendorong pelaku usaha menerapkan pengawasan mandiri terhadap keamanan dan mutu produknya di seluruh Indonesia.
Taruna menilai pendekatan berbasis risiko menjadi penting mengingat jumlah industri pangan di Indonesia telah mencapai jutaan unit usaha. Pengawasan tersebut diharapkan memperkuat kepatuhan pelaku usaha terhadap standar keamanan, mutu, dan gizi pangan nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....