BPJS Ketenagakerjaan Luncurkan Program Pemberdayaan Ahli Waris

  • 13 Jul 2026 17:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPJS Ketenagakerjaan meluncurkan program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan bagi penerima manfaat dan ahli waris peserta.
  • Program dijalankan melalui konsep 3P yakni pelatihan, produktif, dan profit agar santunan dapat menjadi modal usaha.
  • BPJS Ketenagakerjaan menargetkan minimal 10 persen peserta sudah produktif dalam tiga bulan setelah pelatihan.

RRI.CO.ID, Jakarta - BPJS Ketenagakerjaan menggelar program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan bagi penerima manfaat dan ahli waris peserta. Program ini bertujuan memastikan santunan yang diterima dapat menjadi modal untuk kehidupan yang lebih mandiri.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat mengatakan santunan bukan akhir dari layanan lembaga tersebut. Menurutnya, penerima manfaat perlu didampingi agar mampu mengelola dana secara bijak dan produktif.

“Tujuan utamanya adalah bagaimana manfaat yang diterima oleh para ahli waris benar-benar bisa menjadikan mereka berdaya dan berkelanjutan. Supaya santunan bukan berarti akhir dari layanan BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Saiful di Gedung BPJS Ketenagakerjaan, Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

BPJS Ketenagakerjaan menggandeng OJK, Bank Mandiri, dan Rumah BUMN dalam pelaksanaan program tersebut. Kolaborasi itu difokuskan pada peningkatan literasi keuangan dan pengembangan usaha peserta.

Saiful menyebut penyaluran manfaat di DKI Jakarta mencapai sekitar Rp6 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2026. Nilai tersebut mencakup pembayaran Jaminan Hari Tua serta berbagai manfaat lainnya.

Ia mengatakan sebagian penerima manfaat memperoleh santunan hingga ratusan juta rupiah. Tanpa literasi keuangan yang baik, dana tersebut berisiko habis dalam waktu singkat.

“Kalau itu tidak diimbangi dengan kemampuan untuk kecerdasan finansial pasti akan menjadikan kendala juga. Seperti yang disampaikan oleh Pak Wagub habis dalam 2-3 minggu tanpa memiliki keahlian dan kecerdasan keuangan,” katanya.

Karena itu, peserta diberikan pelatihan literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi digital. Materi tersebut diharapkan membantu peserta mengelola dana secara lebih efektif.

Selain itu, peserta juga akan didampingi untuk menentukan bidang usaha sesuai minat mereka. Dana santunan diharapkan menjadi modal awal untuk membangun usaha berkelanjutan.

“Selanjutnya adalah bagaimana mereka memiliki keahlian lebih lanjut dari manfaat yang diterima, ide-ide usaha apa untuk berkelanjutan. Sehingga dana manfaat yang diterima ini menjadi modal awal,” ucap Saiful.

BPJS Ketenagakerjaan menjalankan program tersebut melalui konsep 3P, yakni pelatihan, produktif, dan profit. Tahap pertama dimulai dengan pelatihan dasar bagi seluruh peserta.

Setelah itu, peserta akan dipetakan berdasarkan minat usaha untuk mendapatkan pendampingan lanjutan. Peserta tersebut kemudian dihubungkan dengan pihak yang memiliki program pelatihan terkait.

“Selanjutnya setelah pelatihan kami akan memastikan mereka menjadi produktif, mereka bisa produksi. Target kami adalah 10% minimal dalam 3 bulan, agar ekosistem ini benar-benar memastikan keberlanjutannya,” katanya.

Tahap berikutnya adalah memastikan peserta mampu memperoleh keuntungan dari usahanya. Dengan demikian, penerima manfaat dapat memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Saat ini program masih difokuskan kepada penerima manfaat jaminan kematian dan kecelakaan kerja. Ke depan, program akan diperluas kepada penerima Jaminan Hari Tua yang memasuki masa pensiun.

“Demikian, mudah-mudahan langkah ini benar-benar mewujudkan bahwa BPJS Ketenagakerjaan beserta rekan-rekan dari ekosistem ini menjadikan ketahanan sosial ekonomi nasional dapat kita wujudkan bersama,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....