Kementan Siagakan 16 Pompa Atasi Kekeringan Subang

  • 12 Jul 2026 23:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Pertanian mempercepat penanganan kekeringan di Kabupaten Subang dengan membangun sumur submersible di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara.
  • Kementan menyiapkan 16 unit pompa irigasi air tanah dalam yang akan disalurkan ke enam kecamatan terdampak kekeringan di Kabupaten Subang.
  • Penanganan kekeringan dilakukan melalui survei lapangan dan pemetaan potensi air tanah menggunakan metode geolistrik untuk intervensi yang lebih cepat dan tepat sasaran.
  • Penguatan infrastruktur air menjadi bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim untuk menjaga produktivitas pertanian dan target swasembada pangan nasional.

RRI.CO.ID, Subang – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penanganan kekeringan di Kabupaten Subang, Jawa Barat, untuk menjaga produksi padi. Langkah tersebut dilakukan melalui pembangunan sumur submersible dan penyiapan 16 unit pompa irigasi di wilayah terdampak.

Langkah itu merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kepada seluruh jajaran Kementan. Mentan meminta setiap laporan kekeringan segera ditangani agar tidak berkembang menjadi puso yang mengganggu produksi pangan nasional.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) menerjunkan tim ke Subang. Tim melakukan survei lapangan dan pemetaan potensi air tanah menggunakan metode geolistrik di sejumlah wilayah terdampak.

Hasil survei menjadi dasar pembangunan sumur submersible di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara. Sumur tersebut disiapkan sebagai sumber air baru bagi lahan sawah tadah hujan yang belum terlayani jaringan irigasi.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Manyingsal, Agus Hermawan, mengapresiasi respons cepat Kementan menangani kekeringan. Menurutnya, pembangunan sumur dilakukan segera setelah laporan kondisi lapangan diterima.

"Alhamdulillah atas cepat tanggapnya dari Kementerian Pertanian. Hari ini langsung dibuatkan sumur submersible di Desa Manyingsal," ucapnya.

Ia berharap keberadaan sumur tersebut mampu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Dengan begitu, petani tetap dapat melanjutkan musim tanam di tengah musim kemarau.

Apresiasi juga disampaikan petani Desa Manyingsal, Taryo, yang mengaku kekeringan tahun ini cukup berat. Menurutnya, sumber air dari sumur bor yang selama ini dimanfaatkan warga telah mengering.

"Kami benar-benar mengalami kekeringan. Karena sumber mata air sumur bor pantek sudah kering di desa kami," katanya.

Taryo mengatakan pemerintah bergerak cepat setelah menerima laporan dari petani. Menurutnya, kurang dari satu hari setelah survei dilakukan, alat geolistrik langsung diturunkan untuk mencari sumber air baru.

"Harapan kami dengan sumur baru ini bisa mengatasi kekeringan. Biar panen kami bisa maksimal," ucapnya.

Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Bandung, Hamid Sangadji, mengatakan penanganan kekeringan dilakukan secara menyeluruh. Kementan memetakan daerah yang berpotensi terdampak agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Selain membangun sumur submersible di Kecamatan Cipunagara, Kementan juga menyiapkan 16 unit pompa irigasi. Bantuan tersebut akan disalurkan ke enam kecamatan di Kabupaten Subang yang terdampak kekeringan.

Pompa irigasi air tanah dalam akan ditempatkan di Kecamatan Pusakanagara, Patokbeusi, dan Blanakan. Seluruh usulan bantuan terlebih dahulu melalui proses verifikasi administrasi agar penyalurannya tepat sasaran.

Kementan menegaskan penguatan infrastruktur air menjadi bagian dari strategi mitigasi menghadapi perubahan iklim. Pemerintah berharap langkah tersebut mampu menjaga produktivitas pertanian, mengamankan hasil panen, dan mendukung target swasembada pangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....