Komisi VI Minta Industri Farmasi BUMN Tingkatkan Inovasi dan Teknologi
- 12 Jul 2026 11:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi VI mendorong penguatan tata kelola, sumber daya manusia, dan teknologi industri farmasi BUMN.
- Pengembangan satu produk bahan baku obat dapat membutuhkan biaya sekitar Rp1 triliun.
- Kimia Farma dan Bio Farma diharapkan memperkuat kemandirian obat nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Sturman Panjaitan meminta, penguatan tata kelola industri farmasi BUMN. Penguatan sumber daya manusia dan teknologi juga dinilai penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
Hal tersebut disampaikan Sturman saat kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI di Semarang, Jumat, 10 Juli 2026. Kunjungan tersebut menyoroti pengelolaan industri farmasi BUMN di tengah ketergantungan terhadap bahan baku obat impor.
"Kimia Farma, Bio Farma sudah berdiri tahun 1800-an, artinya kalau berkembang secara wajar, harusnya sudah menguasai wilayah Indonesia bahkan mancanegara. Tapi faktanya masih sangat terbatas, inilah perlu manajemen jadi diatur," ujar Sturman.
Menurutnya, keterbatasan industri farmasi BUMN turut dipengaruhi oleh kemampuan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia. Kedua aspek tersebut perlu diperkuat agar perusahaan mampu berkembang dan menguasai pasar domestik.
"Manajemen harus diatur, SDM-nya harus ditingkatkan dan mempunyai teknologi yang canggih. Karena lack of SDM, lack of technology, sehingga akan tidak bisa maju," katanya.
Sturman juga menyoroti besarnya biaya dan lamanya waktu pengembangan bahan baku obat. Menurutnya, pengembangan satu produk dapat membutuhkan biaya sekitar Rp1 triliun dan waktu bertahun-tahun.
Kondisi tersebut dinilai membutuhkan dukungan dan keseriusan pemerintah dalam memperkuat industri farmasi nasional. Dukungan riset dan pengembangan juga diperlukan untuk meningkatkan kemandirian bahan baku obat secara bertahap.
Sturman berharap Kimia Farma dan Bio Farma dapat menjadi tulang punggung penyediaan obat nasional. Penguatan kedua perusahaan tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan baku obat dari luar negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....