Mensos: Sekolah Rakyat Bangkitkan Kepercayaan Diri Anak-anak

  • 11 Jul 2026 07:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mensos menilai siswa Sekolah Rakyat lebih percaya diri setelah satu tahun belajar
  • Perubahan terlihat pada kedisiplinan, prestasi, dan keberanian meraih cita-cita
  • Sekolah Rakyat menjangkau siswa melalui DTSEN, bukan pendaftaran umum
  • Sejumlah siswa menunjukkan prestasi dan perubahan karakter yang signifikan
  • Program ditujukan membuka akses pendidikan bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menilai siswa Sekolah Rakyat mulai menunjukkan banyak perubahan setelah mengikuti pembelajaran selama satu tahun. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya rasa percaya diri, kedisiplinan, hingga keberanian mereka dalam meraih cita-cita.

Hal itu disampaikan Mensos saat menghadiri Open House Sekolah Rakyat bersama calon siswa dan orang tua di Sentra Paramita Mataram, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat 10 Juli 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan calon siswa dengan siswa Sekolah Rakyat yang telah menjalani pendidikan sejak Sekolah Rakyat rintisan dibuka pada Juli 2025.

"Anak-anak yang selama ini mungkin mengubur mimpinya, sekarang mulai lebih percaya diri, lebih optimistis, dan berani meraih cita-citanya," kata Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya. Pemerintah menjangkau langsung calon siswa melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

"Anak-anak yang tampil di depan tadi adalah anak-anak yang dijangkau melalui data yang dimiliki pemerintah. Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, tetapi negara yang menjangkau keluarga-keluarga yang selama ini mungkin belum terlihat dalam proses pembangunan," ucapnya.

Ia menjelaskan Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi keluarga yang berada pada desil satu dan dua DTSEN. Kelompok tersebut merupakan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi paling rendah yang menjadi prioritas program pengentasan kemiskinan.

Setelah menjalani pendidikan selama satu tahun, Gus Ipul mengatakan para siswa mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Selain lebih percaya diri, mereka juga mulai berani kembali menggantungkan cita-cita yang sebelumnya sempat terkubur karena keterbatasan ekonomi.

Salah satu contoh perubahan itu ditunjukkan Novatul Alratia, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat. Menurut Gus Ipul, Novatul yang sebelumnya dikenal pemalu kini berhasil menjadi juara pertama pencak silat tingkat nasional.

"Padahal dulu Novatul ini pemalu, pendiam, dan jarang bicara. Sekarang sudah menjadi juara nasional," katanya.

Saat berdialog dengan Mensos, Novatul mengaku bercita-cita menjadi polisi wanita. Ia juga menyebut Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran yang paling disukainya.

Ibunda Novatul mengaku melihat perubahan besar pada putrinya sejak bersekolah di Sekolah Rakyat. Menurutnya, Novatul kini lebih disiplin, rajin membantu orang tua, dan semakin percaya diri.

"Alhamdulillah perkembangan anak saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang dia lebih disiplin, rajin membantu di rumah, dan lebih percaya diri," ucapnya.

Ia mengatakan kondisi ekonomi keluarganya sempat terdampak pandemi Covid-19. Situasi tersebut membuat Novatul pernah kehilangan rasa percaya diri saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Perubahan serupa juga dialami Haikal Abdul Majid, siswa SRMP 18 Lombok Barat yang bercita-cita menjadi psikolog. Haikal tinggal bersama bibinya setelah ayahnya mengalami gangguan jiwa dan ibunya menikah lagi.

"Saya merasa senang karena bisa banyak teman, guru-gurunya baik kepada saya, dan bisa makan gratis di sini," kata Haikal.

Bibi Haikal mengatakan keponakannya kini jauh lebih berani tampil di depan umum. Bahkan, Haikal sudah dipercaya menjadi imam di lingkungan sekolah.

"Perkembangannya luar biasa, terutama kedisiplinan dan kepercayaan dirinya. Dulu dia jarang tampil di depan orang banyak, sekarang sudah berani tampil dan bahkan menjadi imam di sekolah," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Gus Ipul juga berdialog dengan calon siswa Sekolah Rakyat. Salah satunya M. Faturrahman asal Kecamatan Gerung yang mengaku bercita-cita menjadi pilot agar dapat memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci.

"Kenapa ingin jadi pilot?" ucap Gus Ipul.

"Biar bisa mengumrahkan ibu," kata Fatur yang disambut tepuk tangan para peserta.

Ibunda Fatur mengaku bersyukur dengan hadirnya Sekolah Rakyat. Menurutnya, keterbatasan ekonomi selama ini menjadi kendala untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya.

"Harapan saya dia bisa menjadi anak yang sukses. Saya berterima kasih kepada Pak Presiden Prabowo karena melalui Sekolah Rakyat anak kami bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan mencapai cita-citanya," katanya.

Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat merupakan bentuk perhatian Presiden Prabowo Subianto kepada keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program tersebut diharapkan membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak yang selama ini terkendala kondisi ekonomi.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tetap menghormati orang tua dan guru, apa pun pekerjaan maupun kondisi ekonomi keluarganya. Menurutnya, Sekolah Rakyat diharapkan melahirkan generasi yang tangguh, berkarakter, memiliki keterampilan, dan mampu menjadi pemimpin bangsa di masa depan.

"Mudah-mudahan dari Sekolah Rakyat ini lahir dokter, guru, psikolog, polisi, pilot, bahkan Presiden Republik Indonesia di masa depan," ucap Gus Ipul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....