Mahasiswa Islam Luncurkan Green Movement, Serukan Aksi Hadapi Krisis Iklim

  • 08 Jul 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • perubahan iklim telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat
  • Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa paradigma pemulihan lingkungan saat ini tidak boleh lagi hanya berfokus pada kegiatan menanam pohon

RRI.CO.ID, Jakarta – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Pusat meluncurkan Green Movement sebagai aksi menghadapi krisis iklim. Organisasi mahasiswa tersebut menilai persoalan lingkungan tidak cukup direspons dengan kampanye atau seruan semata.

Ketua PC PMII Jakarta Pusat, Mu’ammar Rizal Fauzi, mengatakan perubahan iklim telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Mulai dari banjir, polusi udara, cuaca ekstrem hingga berkurangnya ruang terbuka hijau.

“Green Movement adalah komitmen nyata kader PMII untuk hadir di tengah krisis iklim melalui tindakan konkret. Menanam pohon berarti menanam masa depan,” ujar Amar usai peluncuran Green Movement di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Peluncuran gerakan tersebut ditandai dengan aksi penanaman pohon di kawasan Rusun Aspol Menteng, Jakarta Pusat. Menurut Amar, langkah itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Ia menilai kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memperbesar ketimpangan sosial. Karena kelompok masyarakat rentan menjadi pihak yang paling terdampak oleh banjir, polusi, maupun kekeringan.

“Merawat bumi bukan sekadar kepedulian lingkungan. Namun ini bagian dari ibadah, tanggung jawab kebangsaan, dan pengabdian kepada kemanusiaan,” katanya.

Ke depan, Green Movement akan diisi berbagai program, mulai dari penanaman pohon, edukasi lingkungan, kampanye pengurangan emisi karbon. Hingga kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha.

Menurutnya, gerakan tersebut diharapkan mendorong mahasiswa tidak hanya kritis terhadap isu lingkungan. Tetapi juga terlibat langsung dalam menghadirkan solusi atas persoalan ekologis.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa paradigma pemulihan lingkungan saat ini tidak boleh lagi hanya berfokus pada kegiatan menanam pohon. Lebih dari itu, program rehabilitasi harus menjadi gerakan sosial yang menumbuhkan kepedulian, memperkuat gotong royong.

Dan juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut), Rohmat Marzuki, pada Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia.

“Inilah semangat yang ingin terus kita bangun, bahwa pemulihan lahan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menumbuhkan kepedulian. Sebab pada akhirnya, lahan yang sehat akan menghadirkan lingkungan yang sehat, ekonomi yang kuat, dan kehidupan yang lebih baik,” kata Rohmat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....