Perpusnas Perkenalkan Jenama Baru Pustakawan sebagai Pemelajar Sepanjang Hayat

  • 08 Jul 2026 07:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perpusnas memperkenalkan jenama baru pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat (lifelong learner) pada Hari Pustakawan Indonesia 2026.
  • Transformasi profesi bertujuan memperkuat peran pustakawan sebagai penggerak literasi, penjaga pengetahuan, dan agen pembelajaran di era digital dan kecerdasan buatan (AI).
  • Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menegaskan pustakawan tidak lagi sekadar penjaga buku, tetapi menjadi penghubung masyarakat dengan pengetahuan dan budaya literasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkenalkan jenama baru pustakawan sebagai lifelong learner atau pemelajar sepanjang hayat pada peringatan Hari Pustakawan Indonesia 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat posisi pustakawan sebagai penggerak literasi dan fasilitator pembelajaran di tengah perubahan lanskap informasi yang dipengaruhi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI).

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan profesi pustakawan tidak lagi dapat dipandang sebatas pengelola koleksi atau penjaga rak buku. Menurut dia, pustakawan kini memiliki peran yang lebih luas sebagai penghubung masyarakat dengan pengetahuan serta pendamping proses belajar sepanjang hayat.

"Pustakawan hari ini bukan lagi dipandang sebagai penjaga rak buku. Mereka adalah penghubung masyarakat dengan pengetahuan, pendamping belajar sepanjang hayat, sekaligus penggerak lahirnya budaya literasi,” kata Aminudin dalam peringatan Hari Pustakawan Indonesia, Selasa, 7 Juli 2026.

Perpusnas memandang perubahan cara pandang terhadap profesi pustakawan menjadi bagian penting dari transformasi perpustakaan. Karena itu, lembaga tersebut ingin membangun citra baru pustakawan sebagai individu yang terus belajar, mengembangkan kompetensi, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Menurut Aminudin, transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan empat karakter utama pustakawan. Yakni, selalu memperbarui pengetahuan, hadir membantu masyarakat, menjadi pewaris peradaban, serta berperan sebagai pemengaruh yang mendorong tumbuhnya budaya belajar.

"Bangsa yang ingin maju membutuhkan pustakawan yang selalu belajar. Ketika pustakawan berhenti belajar, perpustakaan akan kehilangan relevansinya," ujarnya.

Perpusnas mencatat, hingga Juli 2026 terdapat 5.593 pustakawan di Indonesia. Sebanyak 74,95 persen di antaranya memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan, dengan komposisi jabatan didominasi Pustakawan Ahli Pertama dan Pustakawan Ahli Muda.

Perpusnas menilai jumlah tersebut menjadi modal untuk memperluas layanan perpustakaan, sekaligus memperkuat budaya literasi nasional.

Sebagai bagian dari implementasi transformasi profesi, Perpusnas menjalankan Program Hari Bakti Perpusnas yang mendorong pustakawan memberikan pendampingan kepada perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan desa, hingga taman bacaan masyarakat. Program itu ditujukan agar pustakawan tidak hanya mengelola layanan perpustakaan, tetapi juga berperan sebagai fasilitator pembelajaran dan mitra masyarakat dalam meningkatkan kecakapan literasi.

Rangkaian Hari Pustakawan Indonesia 2026 juga diisi dengan pameran Satu Hari Bersama Pustakawan, kelas literasi, kelas menulis, diskusi mengenai peran pustakawan di era AI, literasi naskah Nusantara, literasi anak, serta berbagai kegiatan edukasi yang berlangsung sepanjang Juli 2026.

Perpusnas berharap penguatan identitas pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat dapat meningkatkan profesionalisme pustakawan. Sekaligus, mempertegas peran perpustakaan sebagai ruang belajar yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....