BNPB: Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin Capai 50 Persen
- 07 Jul 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan progres pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang telah mencapai 50 persen
- Walaupun pengendalian titik api mendapatkan kemajuan pada hari ke-delapan, namun luas area yang terbakar bertambah menjadi 18 hektar
RRI.CO.ID, Tangerang - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan progres pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang telah mencapai 50 persen. Walaupun pengendalian titik api mendapatkan kemajuan pada hari ke-delapan, namun luas area yang terbakar bertambah menjadi 18 hektar.
"Ini kemarin saya laporkan 45 persen dan saat ini sudah hampir 50 peren lahan kebakaran kita kendalikan. Karena kita sudah menyasar ke arah barat TPA Jatiwaringin," ujar Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, Selasa 7 Juli 2026.
Djohan mengatakan dari angka 50 persen pengendalian titik api kebakaran di TPA Jatiwaringin ini juga diiringi dengan tingkat kebersihan area terdampak yang mencapai 70 persen. Dimana, hasil pengendalian tersebut merupakan dari optimalisasi kerja keras seluruh unsur dari BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan (KLH), TNI/Polri dan pemerintah daerah.
"Mencari solusi itu pasti step by step, tapi aat ini perkembangannya sudah sangat signifikan. Titik api sudah hampir tidak ada, namun jika terkena angin kencang memang asap masih bisa muncul dan alhamdulillah, pergerakan kita maju pesat," ucapnya.
Djohan mengungkapkan selama operasi kebencanaan kebakaran diarea tempat pembuangan sampah yang dinilai memiliki karakteristik dengan menyerupai lahan gambut ini turut menjadi kendala dalam pemadaman petugas gabungan. Kesulitan petugas dalam mencapai titik api dipenuhi material kompleks seperti plastik dan beling.
Sehingga pihaknya menerapkan strategi khusus dengan menyemprotkan air dari permukaan, melainkan berkolaborasi dengan alat berat. "Metode Penguraian yaitu alat berat seperti buldozer dan ekskavator dikerahkan untuk mengais dan membongkar tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap," ujarnya.
Selain itu, metode pendinginan dalam seperti pengangkatan material yang menyimpan panas (geothermal) dibagian dalam terangkat ke permukaan. Petugas darat langsung melakukan penyiraman dan pembasahan (coolingdown).
Kemudian, untuk mempercepat mobilitas, petugas damkar disektor utara, selatan, dan tengah disokong oleh puluhan mobil tangki air berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter. Mobil-mobil tangki ini terus keluar masuk menyuplai air secara langsung di titik pemadaman, sehingga armada mobil pemadam utama tidak perlu meninggalkan lokasi untuk melakukan pengisian ulang.
"Sebanyak 500 personel gabungan kini difokuskan untuk menggempur area sektor barat mengikuti arah embusan angin. Selain jalur darat, operasi udara juga terus dioptimalkan," kata dia.
ia juga menyatakan hingga saat ini terdapat empat helikopter water bombing yang disiagakan oleh BNPB untuk menjangkau titik-titik sulit. Meski beberapa heli sempat diistirahatkan secara bergantian demi mematuhi prosedur perawatan, operasi pengeboman air dipastikan tetap berjalan maksimal.
"Untuk pemadaman sampai tuntas! Sampai padam! Pokoknya intinya perintahnya itu sampai padam dan kita lakukan secepatnya. Jika status dua minggu itu berlalu dan belum tuntas, SK Daruratnya akan diperpanjang oleh pemerintah daerah," ucap dia.
Diketahui, kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang yang memasuki hari ke-delapan ternyata dampaknya bukan hanya asap pada kesehatan. Namun, pencemaran ekologis dari lindi sampah yang mengalir ke pemukiman warga maupun daerah aliran sungai terdekat.
Pekampanye Urban Nasional WALHI, Wahyu Eka Setyawan mengatakan metode baru ditempuh petugas gabungan dalam proses pemadaman TPA Jatiwaringin. Mereka mencoba opsi ketiga menggunakan flame blaze.
"Ini cairan konsentrat pemadam api yang bertindak sebagai enkapsulan hidrokarbon, agen pembasah dan pendingin. Ini jelas jadi bentuk kekerasan ekologis pelan-pelan atau slow violence buat warga Mauk, Sukadiri dan Rajeg,” ujarnya, Selasa 7 Juli 2026.
Alasannya, ia uraikan, karena TPA Jatiwaringin masih pakai sistem open dumping alias sampah ditumpuk terbuka. Proses pemadaman darat dan udara yang menyiramkan air dalam volume raksasa justru memicu lonjakan volume air lindi beracun secara drastis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....