Legislator: Panja Perfilman Dorong Film Jadi Instrumen Diplomasi Budaya
- 07 Jul 2026 19:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengatakan pembahasan Panitia Kerja (Panja) Perfilman masih terus berlangsung
- Sejauh ini, Komisi VII telah menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan berbagai pemangku kepentingan
- Mulai dari pelaku industri, pengelola bioskop, produser, hingga platform distribusi film nonkonvensional
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena mengatakan pembahasan Panitia Kerja (Panja) Perfilman masih terus berlangsung. Sejauh ini, Komisi VII telah menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan berbagai pemangku kepentingan.
Mulai dari pelaku industri, pengelola bioskop, produser, hingga platform distribusi film nonkonvensional. Menurut Samuel, masukan yang diterima menunjukkan ekosistem perfilman nasional jauh lebih luas dibanding yang selama ini terlihat.
“Sudah cukup panjang pembahasannya, tetapi ternyata masih banyak komunitas perfilman yang perlu kami dengarkan. Ekosistem film ini sangat besar,” ujar Samuel, saat ditemui di Gedung Nusantara II Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menegaskan, perhatian Panja tidak hanya tertuju pada aspek teknis produksi film. Tetapi juga pada kualitas konten yang mampu memperkuat identitas bangsa.
Menurutnya, film dapat menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Mulai dari tradisi, kuliner, gaya hidup, hingga keindahan alam.
“Yang ingin kami dorong bukan sekadar kemampuan teknis membuat film, tetapi bagaimana kontennya mampu menghadirkan kebudayaan Indonesia. Salah satunya yang lebih kuat dan memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia,” ujarnya.
Samuel mengakui pemerintah maupun DPR tidak bisa mengintervensi isi karya para sineas karena industri film didominasi sektor swasta. Peran pemerintah, kata dia, lebih diarahkan pada membangun dialog dan menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya karya-karya berkualitas.
Samuel menilai pengalaman sejumlah negara menunjukkan industri film mampu menjadi instrumen diplomasi budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif. Ia mencontohkan Korea Selatan yang dinilai berhasil memanfaatkan industri kreatif untuk memperkuat citra negara di tingkat global.
“Korea Selatan menunjukkan bahwa industri kreatif memiliki multiplier effect yang besar. Film bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memperkenalkan budaya, mendorong pariwisata, hingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....