WALHI Paparkan Dampak Luas Pencemaran Kebakaran TPA Jatiwaringin
- 07 Jul 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang yang memasuki hari ke-delapan ternyata dampaknya bukan hanya asap pada kesehatan
- Namun, pencemaran ekologis dari lindi sampah yang mengalir ke pemukiman warga maupun daerah aliran sungai terdekat
RRI.CO.ID, Tangerang - Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang yang memasuki hari ke-delapan ternyata dampaknya bukan hanya asap pada kesehatan. Namun, pencemaran ekologis dari lindi sampah yang mengalir ke pemukiman warga maupun daerah aliran sungai terdekat.
Pekampanye Urban Nasional WALHI, Wahyu Eka Setyawan mengatakan metode baru ditempuh petugas gabungan dalam proses pemadaman TPA Jatiwaringin. Mereka mencoba opsi ketiga menggunakan flame blaze.
"Ini cairan konsentrat pemadam api yang bertindak sebagai enkapsulan hidrokarbon, agen pembasah dan pendingin. Ini jelas jadi bentuk kekerasan ekologis pelan-pelan atau slow violence buat warga Mauk, Sukadiri dan Rajeg,” ujarnya, Selasa 7 Juli 2026.
Alasannya, ia uraikan, karena TPA Jatiwaringin masih pakai sistem open dumping alias sampah ditumpuk terbuka. Proses pemadaman darat dan udara yang menyiramkan air dalam volume raksasa justru memicu lonjakan volume air lindi beracun secara drastis.
Wahyu membeberkan air lindi dari sampah heterogen yang mengandung logam berat ini langsung merembes ke bawah tanah. Maka berpotensi mencemari sumur-sumur air bersih warga serta merusak ekosistem daerah aliran sungai sekitarnya.
“Dampaknya gak main-main, selain polusi asap plastik yang melepaskan zat dioksin dan furan yang bikin ratusan warga kena ISPA akut. Pencemaran air lindi ke sumber air ini membawa risiko karsinogenik jangka panjang bagi masyarakat di radius dekat,” kata dia.
WALHI menegaskan solusinya pemerintah wajib transparan soal kandungan kimia yang digunakan, karena ada risiko ekologis bawah permukaan yang mengancam. Jika formula cairan tersebut meninggalkan residu kimia non-organik dalam skala besar, zat itu bakal larut bersama air pemadaman dan membuat kepekatan racun air lindi yang merembes ke tanah warga makin parah.
Selain itu, lanjutnya, penyiraman jenis ini dari atas berisiko menciptakan efek kerak padat di permukaan sampah plastik. Kelihatannya di luar sudah padam, padahal kantong-kantong gas metana di dalam perut gunungan sampah justru terisolasi dan tetap membara di bawah permukaan.
“Ini berbahaya. Karena bisa jadi bom waktu yang sewaktu-waktu memicu ledakan atau kebakaran susulan begitu mendapat suplai oksigen kembali," ucap Wahyu.
Wahyu berharap pemerintah tidak boleh balik ke setelan pabrik. Setelah api padam karena kebakaran ini adalah bukti runtuhnya penegakan hukum lingkungan.
Langkah paling mendesak pertama adalah melakukan audit lingkungan total dan mengusut pelanggaran hukum secara sistemik. Sebab Jatiwaringin terbukti melanggar Pasal 44 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mewajibkan sistem open dumping ditutup total sejak 2013 lalu.
“Kedua, Pemkab wajib memulihkan hak konstitusional warga. Hal itu sesuai Pasal 28H UUD 1945 dengan menjamin layanan kesehatan gratis total bagi seluruh korban terdampak asap karsinogenik,” ujar Wahyu.
Diketahui, dampak kesehatan dari kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang menimbulkan berbagai macam penyakit. Perihal tersebut dilayangkan Dokter spesialis paru sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama.
Tjandra mengatakan terdapat sejumlah kajian ilmiah yang dapat menjadi rujukan dalam menilai sekaligus mengatasi dampak kesehatan akibat kebakaran sampah berskala luas. Setidaknya ada lima dampak kebakaran sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
"Pertama, kebakaran berbagai jenis sampah yang luas dapat menimbulkan polusi udara dengan setidaknya delapan gas. Yakni, amonia (NH3), karbon dioksida dioxide (CO2), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2)," ujarnya, Selasa 7 Juli 2026.
Selain gas, Tjandra menerangkan, kebakaran juga menghasilkan polusi bahan padat atau Particulate Matter (PM) dalam berbagai ukuran. Termasuk PM 2,5 yang dapat masuk hingga ke alveolus paru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....