Menteri PPPA Ajak Ulama Perempuan Bersinergi Cegah Kekerasan terhadap Anak

  • 07 Jul 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengajak ulama perempuan memperkuat sinergi mencegah kekerasan terhadap perempuan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengajak ulama perempuan memperkuat sinergi mencegah kekerasan terhadap anak. Menurut dia, kolaborasi seluruh elemen masyarakat termasuk ulama perempuan akan semakin menciptakan lingkungan aman bagi anak di Indonesia.

“Ulama perempuan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ’alamin,” ujarnya, Senin 6 Juli 2026. Yaitu dengan menjunjung martabat manusia, keadilan, kasih sayang, serta perlindungan bagi kelompok rentan.

Kementerian PPPA sebelumnya telah memperkuat kemitraan dengan berbagai organisasi keagamaan seperti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Ini dilakukan melalui edukasi, advokasi, peningkatan kapasitas, serta kolaborasi berkelanjutan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Arifah mengatakan kolaborasi menjadi bagian penting dalam implementasi kebijakan perlindungan perempuan dan anak secara berkelanjutan. Menurut dia, pencegahan kekerasan membutuhkan perubahan norma sosial, budaya, dan keagamaan yang menghormati martabat manusia.

Menteri menambahkan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin mendesak dilakukan karena kasusnya masih tinggi. Data SIMFONI PPA mencatat terjadinya 35.020 kasus kekerasan dengan 36.920 korban sepanjang 2025.

“Kekerasan fisik menjadi bentuk kekerasan paling banyak dialami perempuan berdasarkan temuan tersebut,” ujarnya. Dalam hal ini rumah tangga menjadi lokasi utama kekerasan, dengan 52,42 persen pelaku merupakan pasangan.

Arifah berharap keterlibatan ulama perempuan mampu mendorong perubahan norma sosial yang melindungi kelompok rentan. Sehingga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, inklusif, dan peduli terhadap perlindungan perempuan serta anak.

“Melalui peran ulama perempuan, kami berharap norma sosial masyarakat bergeser ke arah perlindungan terhadap kelompok rentan,” ujarnya. “Sehingga nantinya akan terwujud lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan.”

Arifah juga mengapresiasi penyelenggaraan pameran seni dan diskusi yang digelar AMAN Indonesia. Menurutnya, perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu pilar utama pembangunan bangsa.

“Bangsa yang maju bukan hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi. Tetapi sejauh mana kemampuan negara menjamin setiap perempuan dan anak hidup dengan aman, bermanfaat, dan memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....