Godzilla El Nino Potensi Picu Krisis Pangan, DPR Minta APBN 2027 Utamakan Pertanian

  • 06 Jul 2026 11:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ancaman Godzilla El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026, dinilai berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan dan mengganggu produksi pangan nasional.
  • Program Optimalisasi Lahan (Oplah), dinilainya jauh lebih efisien dibandingkan Cetak Sawah karena memanfaatkan lahan pertanian yang sudah tersedia.
  • Di tengah ancaman (Godzilla) El Nino, setiap rupiah anggaran harus menghasilkan tambahan produksi pangan yang maksimal. Optimalisasi lahan jauh lebih efisien karena memanfaatkan lahan pertanian yang sudah ada

RRI.CO.ID, Jakarta - Ancaman Godzilla El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026, dinilai berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan dan mengganggu produksi pangan nasional. Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet meminta, pemerintah menyusun APBN 2027 dengan mengutamakan program pertanian.

Menurut Slamet, setiap anggaran negara harus mampu menghasilkan peningkatan produksi pangan secara maksimal di tengah ancaman perubahan iklim. Program Optimalisasi Lahan (Oplah), dinilainya jauh lebih efisien dibandingkan Cetak Sawah karena memanfaatkan lahan pertanian yang sudah tersedia.

"Di tengah ancaman (Godzilla) El Nino, setiap rupiah anggaran harus menghasilkan tambahan produksi pangan yang maksimal. Optimalisasi lahan jauh lebih efisien karena memanfaatkan lahan pertanian yang sudah ada," kata Slamet dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Berdasarkan alokasi anggaran 2026, ia menjelaskan, program Cetak Sawah memperoleh dana sebesar Rp8,75 triliun untuk target 250 ribu hektare. Atau, lanjut Slamet, sekitar Rp35 juta per hektare sawah.

Sementara itu, program Oplah hanya membutuhkan Rp1,65 triliun untuk target 300 ribu hektare. Atau, sekitar Rp5,5 juta per hektare sawah.

Dengan perbandingan tersebut, biaya Cetak Sawah tercatat sekitar 6,4 kali lebih besar dibandingkan program Oplah. Slamet menilai, perbedaan biaya tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali skema pengalokasian anggaran.

"Anggaran Cetak Sawah yang mencapai Rp3,5 triliun dapat memberikan manfaat lebih besar apabila sebagian dialihkan ke program Optimalisasi Lahan. Dana sebesar itu berpotensi mengoptimalkan sekitar 636 ribu hektare lahan pertanian," ucap Slamet.

Pada 2027, ia menuturkan, pemerintah menargetkan program Oplah seluas 200 ribu hektare. Dan, program Cetak Sawah 100 ribu hektare dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp4,6 triliun.

Rinciannya, Rp1,1 triliun dialokasikan untuk Oplah dan Rp3,5 triliun untuk program Cetak Sawah. Slamet juga mengusulkan, pemerintah memperkuat infrastruktur pertanian sebagai langkah menghadapi dampak El Nino.

Ia menegaskan, penting memperkuat rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, pompanisasi, perpipaan, jalan usaha tani, hingga penyediaan alat pertanian. Semua itu, dapat menjadi investasi yang lebih strategis untuk dunia pertanian di Indonesia.

"Cetak Sawah tetap penting sebagai strategi jangka panjang, tetapi harus dilakukan secara selektif pada wilayah yang benar-benar siap. Dalam situasi Godzilla El Nino, prioritas utama adalah memastikan lahan yang sudah ada tetap produktif melalui Optimalisasi Lahan," ujar Slamet.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....