El Nino 2026 Diprediksi Buat Curah Hujan di Bawah Normal, Ini Penjelasan BMKG
- 05 Jul 2026 11:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG memprediksi 47,16 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal, dengan lebih dari 80 persen wilayah terdampak pada periode Juli-Oktober 2026.
- Fenomena El Nino yang berkembang dengan intensitas kuat menjadi penyebab utama berkurangnya curah hujan dan berpotensi memperpanjang musim kemarau.
- BMKG merekomendasikan mitigasi sektor pertanian melalui penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman tahan kering, dan diversifikasi komoditas untuk mengurangi risiko gagal panen.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai intensitas kuat dalam beberapa bulan mendatang.
"Sekitar 37,6 persen zona musim telah memasuki musim kemarau, selain itu 47,16 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Bahkan pada periode Juli hingga Oktober 2026 lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam keterangannya dikutio dari lama BMKG, Jumat, 3 Juli 2026.
"Dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga September," ucap Ardhasena menambahkan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari perkembangan fenomena El Nino yang saat ini terus menguat.
Fenomena anomali iklim tersebut diperkirakan memberikan dampak langsung terhadap berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. "Sedangkan fenomena anomali iklim El Nino telah berkembang, berdasarkan prediksi terbaru BMKG berpotensi mencapai intensitas yang kuat," ujarnya.
BMKG menilai dampak El Nino dapat membuat musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Selain itu periode kemarau juga berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sehingga, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering dan lebih panjang," ucap Ardhasena. Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat melakukan langkah antisipasi sesuai kebutuhan masing-masing sektor.
Upaya mitigasi dinilai penting untuk mengurangi dampak kekeringan yang berpotensi terjadi. "BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing," kata Ardhasena.
Khusus sektor pertanian, BMKG meminta petani menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim yang berkembang. Penggunaan varietas tanaman tahan kering dan diversifikasi komoditas juga disarankan untuk mengurangi risiko gagal panen.
"Bagi sektor pertanian, penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tahan kering berumur genjah. Serta diversifikasi tanaman palawija menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan," ujar Ardhasena.
BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi iklim secara berkala setiap 10 hari sekali. Masyarakat diimbau memantau informasi resmi BMKG guna mengetahui perkembangan cuaca dan iklim terkini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....