BMKG Imbau Petani Lakukan Penyesuaian Jadwal Tanam untuk Hadapi El Nino 2026

  • 05 Jul 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG mengimbau petani menyesuaikan jadwal tanam untuk menghadapi dampak El Nino yang diprediksi mencapai intensitas kuat di 2026.
  • Petani disarankan memilih varietas tanaman tahan kering berumur genjah dan melakukan diversifikasi komoditas palawija untuk meminimalkan risiko kerugian.
  • El Nino berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia dan membuat musim kemarau berlangsung lebih kering serta lebih panjang dari biasanya.
  • Strategi adaptasi pertanian harus diterapkan sejak dini untuk menjaga produktivitas dan ketersediaan pangan di tengah ancaman kekeringan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau petani menyesuaikan jadwal tanam menghadapi dampak fenomena El Nino. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan produksi akibat berkurangnya curah hujan pada musim kemarau 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan penyesuaian jadwal tanam menjadi salah satu langkah tepat. Tujuannya untuk meminimalkan risiko kerugian.

Selain itu petani juga disarankan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. "Bagi sektor pertanian, penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tahan kering berumur genjah. Serta diversifikasi tanaman palawija menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan," kata Ardhasena, mengutip laman BMKG, Jumat, 3 Juli 2026.

Ardhasena mengatakan El Nino berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi itu dapat membuat musim kemarau berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan biasanya.

"Sedangkan mengenai fenomena anomali iklim El Nino telah berkembang, berdasarkan prediksi terbaru BMKG berpotensi mencapai intensitas yang kuat. Kondisi ini diprediksi dapat mengurangi curah hujan sebagian besar wilayah Indonesia," ujarnya.

Dampak El Nino perlu diantisipasi sejak dini oleh berbagai sektor, terutama pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, petani diminta menyesuaikan pola budidaya dengan kondisi iklim yang berkembang.

"Sehingga, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering dan lebih panjang," ucapnya. Varietas tahan kering berumur genjah dinilai lebih mampu bertahan dalam kondisi minim air sekaligus memiliki masa panen lebih cepat.

Strategi tersebut dapat membantu petani menjaga produktivitas di tengah ancaman kekeringan. Selain penyesuaian jadwal tanam, diversifikasi tanaman juga menjadi salah satu opsi yang disarankan.

Petani dapat mempertimbangkan komoditas palawija yang relatif lebih tahan terhadap kondisi kemarau dibandingkan tanaman yang membutuhkan banyak air. BMKG mengingatkan bahwa masyarakat perlu menerapkan kesiapsiagaan ini sejak awal musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....