Kementan Percepat Pompanisasi Hadapi Potensi El Nino 2026

  • 03 Jul 2026 20:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementan mempercepat pompanisasi untuk mengantisipasi dampak El Nino 2026
  • Mitigasi dilakukan agar petani tetap bisa menanam saat curah hujan menurun
  • Pemerintah memperkuat distribusi pompa, irigasi, dan optimalisasi lahan pertanian
  • Pompanisasi dinilai efektif menjaga produksi pangan dan mendukung swasembada
  • Kementan memastikan sinergi pusat dan daerah menjaga ketahanan pangan nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program pompanisasi untuk menghadapi potensi fenomena El Nino 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga musim tanam petani dan produksi pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah melakukan mitigasi sejak dini agar dampak kekeringan tidak mengganggu sektor pertanian. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino sebelumnya menjadi dasar penguatan langkah antisipasi.

"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman," kata Amran dalam keterangannya, Jumat 3 Juli 2026.

Amran menjelaskan, pemerintah tidak hanya mempercepat distribusi pompa air kepada petani. Kementan juga memperkuat rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan, hingga pemanfaatan teknologi pertanian.

Menurutnya, ketersediaan air menjadi faktor utama menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah perubahan iklim. Hal itu juga penting untuk mendukung target pemerintah mencapai swasembada pangan.

"Kita tidak boleh menunggu krisis terjadi. Prinsip kita adalah mitigasi dari hulu. Air harus tersedia, irigasi harus berfungsi, dan petani harus tetap bisa menanam," ucapnya.

Amran menegaskan, berbagai intervensi sektor pertanian telah memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan nasional. Salah satunya terlihat dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencapai sekitar 5,1 juta ton.

Selain itu, Food and Agriculture Organization (FAO) memproyeksikan Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan produksi beras tertinggi dunia periode 2025-2026. Capaian tersebut dinilai harus terus dijaga melalui penguatan mitigasi iklim.

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Andi Nur Alamsyah mengatakan, pompanisasi menjadi strategi adaptasi ketika curah hujan menurun. Pompa air membantu petani tetap mengolah lahan meski menghadapi potensi kekeringan.

"Bantuan pompa air ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk memastikan petani tetap memiliki akses air. Dengan begitu, lahan yang berpotensi terdampak kekeringan tetap dapat ditanami," kata Andi.

Ia mencontohkan, Kementan telah menyerahkan tujuh unit pompa air kepada kelompok tani di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu. Wilayah tersebut memiliki potensi kekeringan mencapai 1.945 hektare.

Dengan tambahan pompa air tersebut, potensi luas tanam musim berikutnya diperkirakan meningkat hingga 3.445 hektare. Program serupa juga telah berjalan di berbagai wilayah sentra produksi.

Andi menyebut, dukungan sekitar 200 unit pompa air di Kabupaten Indramayu mampu meningkatkan potensi luas tanam secara signifikan. Target tanam yang sebelumnya sekitar 25 ribu hektare naik menjadi sekitar 41 ribu hektare.

"Pompanisasi adalah instrumen mitigasi yang sangat efektif. Dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang tersedia, kita memastikan petani tetap bisa menanam meskipun curah hujan menurun," ucapnya.

Kementan memastikan pemantauan kondisi iklim terus dilakukan bersama berbagai pihak. Pemerintah berharap sinergi pusat, daerah, dan petani mampu menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan El Nino.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....