Bantah Isu Pesugihan, Pengelola Gunung Kawi: Kami Destinasi Wisata Religi

  • 05 Jul 2026 04:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengelola Gunung Kawi membantah stigma pesugihan dan menegaskan kawasan tersebut merupakan destinasi wisata religi serta ziarah yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
  • Pengelola mengajak masyarakat tidak mudah mempercayai narasi di media sosial, serta memahami Gunung Kawi berdasarkan fakta dan kehidupan masyarakat setempat.
  • MUI Jawa Timur menegaskan praktik ritual yang mengandung unsur kemusyrikan hukumnya haram, sekaligus mengimbau masyarakat memahami persoalan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengelola wisata religi Gunung Kawi meminta masyarakat menghentikan stigma tempat pesugihan. Imbauan itu disampaikan setelah isu tersebut ramai di media sosial.

Melalui akun Instagram @gunungkawistory, pengelola menegaskan Gunung Kawi merupakan destinasi wisata religi. Kawasan itu menjadi tempat berdoa dan berziarah bagi masyarakat.

"Ribuan orang datang dengan langkah yang tenang, membawa doa, harapan, dan rasa syukur. Bukan tempat yang ditakuti," tulisnya unggahan @gunungkawistory, Jumat, 3 Juli 2026.

Pengelola menjelaskan, jauh sebelum media sosial dipenuhi berbagai konten sensasional, Gunung Kawi telah didatangi ribuan peziarah berbagai daerah. Kehadiran mereka turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar, mulai dari pedagang bunga, pemilik warung, penginapan, hingga sopir angkutan.

Selain menjadi tempat ibadah dan ziarah, Gunung Kawi juga menyimpan nilai budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, pengelola menyayangkan citra kawasan tersebut perlahan berubah akibat narasi yang beredar di media sosial.

"Di sinilah nilai-nilai luhur tetap terjaga, diwariskan, dan terus hidup dari generasi ke generasi. Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah," tulisnya.

Menurutnya, anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan terus berulang hingga akhirnya dipercaya banyak orang. Padahal, mereka menilai stigma tersebut tidak mencerminkan sejarah maupun kehidupan masyarakat yang telah lama menjaga kawasan wisata religi.

"Lalu muncul satu anggapan yang terus diulang: 'Gunung Kawi adalah tempat pesugihan.' Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di sini, kalimat itu selalu terasa berat," katanya.

Meski membantah anggapan tersebut, pengelola tidak menutup kemungkinan adanya oknum yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu. Namun, mereka menegaskan hal itu tidak mewakili nilai dan tradisi yang selama ini dijaga oleh masyarakat setempat.

Di akhir pernyataannya, pengelola berharap masyarakat mulai melihat Gunung Kawi secara lebih utuh. Yaitu sebagai destinasi wisata religi yang memiliki sejarah panjang dan warisan budaya.

Mereka juga mengajak publik tidak mudah mempercayai stigma yang berkembang tanpa memahami fakta di baliknya. "Sudah saatnya cerita tentang Gunung Kawi ditulis kembali, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran," ucapnya.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyoroti praktek pesugihan yang selalu menjadi perbincangan masyarakat. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi serta memahami persoalan tersebut berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Kita harus memahami konteks pesugihan di Gunung Kawi Malang, praktik ritualnya seperti apa? Maka kalau praktik terus ada ritualnya itu tentu kemusyrikan, tentu hukumnya haram secara mutlak," ujar Sekretaris Umum MUI Jatim, Hasan Ubaidillah.

Menurut Ulama yang akrab disapa Gus Ubed ini para tamu yang datang ke Gunung Kawi rata-rata membawa ritual khusus. Khususnya sesajen untuk meminta sesuatu.

"Kalau tawassul atau wasilah itu mendekatkan diri ke Allah, tanpa ritual apapun, tanpa sesajen, murni berdoa saja. Tapi realitanya di Gunung Kawi yang datang melakukan ritual khusus, dengan media-media tertentu seperti sesajen jelas itu haram," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....