Argotelo, saat Singkong Menjelma Gunung Harapan Salatiga

  • 01 Jul 2026 23:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Argotelo mengembangkan singkong menjadi 25 produk olahan, meningkatkan kapasitas produksi hingga 500 ton per tahun, serta memberdayakan sekitar 300 pekerja dan masyarakat sekitar Salatiga.
  • Berkat pemasaran digital dan partisipasi pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Argotelo berhasil menembus pasar ekspor Australia, Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong.
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso mengapresiasi Argotelo sebagai contoh UMKM yang mampu menggabungkan inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan daya saing produk lokal di pasar global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Lereng-lereng Salatiga seolah tak pernah lelah menitipkan harapan melalui setiap umbi singkong yang tumbuh di tanahnya. Dari kesederhanaan itulah, sebuah mimpi perlahan menjelma menjadi denyut kehidupan yang menghidupi ratusan keluarga dan mengantarkan cita-cita hingga melintasi batas negeri.

Nama Argotelo lahir dari pertemuan dua kata sederhana, yakni argo yang berarti gunung dan telo yang berarti singkong. Di balik nama itu, tersimpan doa agar usaha tersebut tumbuh seteguh gunung yang tak pernah berhenti memberi kehidupan kepada siapa pun yang berteduh di sekelilingnya.

“Kami ingin Argotelo memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas. Harapannya, Argotelo dapat menjadi seperti gunung yang memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” ucap pendiri Argotelo, Toni Anandya, dalam keterangan yang dikutip, Rabu, 1 Juli 2026.

Perjalanan Argotelo bermula pada 2016 dengan modal yang jauh dari kata mewah dan kapasitas produksi hanya 10 kilogram setiap hari. Toni mengendarai sepeda motornya menyusuri jalan demi jalan, mengetuk pintu rumah pelanggan sambil membawa harapan yang kala itu masih sebesar singkong di genggamannya.

Langkah kecil itu perlahan menemukan jalannya ketika Argotelo mulai merambah pemasaran digital pada 2018. Keputusan tersebut kemudian menjadi cahaya yang menuntun usaha itu tetap bertahan saat pandemi Covid-19 memaksa banyak pelaku usaha mengubah arah pemasaran.

“Pada 2018, kami sadar Argotelo bisa memberikan inovasi dengan jualan secara daring. Kemudian saat pandemi Covid-19, ketika pelaku usaha lainnya mungkin belum terlalu merambah daring, kami sudah jauh lebih siap,” ujar Toni.

Di dapur-dapur produksi, singkong tidak lagi sekadar menjadi umbi yang direbus atau digoreng sederhana. Tangan-tangan kreatif Argotelo mengubahnya menjadi 25 varian olahan, mulai dari gemblong lumer, getuk, singkong fla, stik tela-tela, rondo royal, mento, nugget singkong, hingga molen tape yang memanjakan lidah.

Kerja keras itu perlahan menjelma menjadi lompatan besar ketika kapasitas produksi melonjak hingga mencapai 500 ton setiap tahun. Argotelo juga melengkapi setiap produknya dengan sertifikasi halal, sertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta hak merek sebagai ikhtiar menjaga kepercayaan konsumen.

Bagi Toni, bertumbuh bukan sekadar soal meningkatnya penjualan atau meluasnya pasar. Pertumbuhan itu juga harus meninggalkan jejak kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan usaha yang ia bangun.

“Delapan puluh persen karyawan kami adalah masyarakat sekitar. Melibatkan karang taruna dan kelompok sadar wisata untuk ikut berdaya bersama di Argotelo,” ujar Toni.

Semangat berbagi manfaat itu kemudian melahirkan Kampung Singkong yang kini menghidupi sekitar 300 pekerja di Salatiga. Singkong yang diolah juga berasal dari daerah-daerah sekitar sehingga setiap panen petani kembali berputar menjadi denyut ekonomi masyarakat setempat.

Di sela kesibukan produksi, Argotelo terus membuka ruang belajar melalui berbagai pembinaan pemerintah mengenai pengolahan pangan, higienitas, hingga pemasaran digital. Kesungguhan itu akhirnya mengantarkan Argotelo tampil dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 dan mempertemukannya dengan calon pembeli dari berbagai penjuru dunia.

“Kami ikut TEI 2025 dan alhamdulillahnya dari pameran tersebut kami mendapat jaringan dari Australia dan berkenalan dengan teman-teman dari Dubai. Kemudian, yang terbaru, kami berhasil mengekspor produk ke Australia,” ujar Toni.

Kini, jejak Argotelo telah merambah Australia, Singapura, Korea Selatan, hingga Hong Kong sebagai pasar ekspor. Namun, bagi Toni, perjalanan itu belum mencapai puncaknya karena ia masih ingin membawa singkong Salatiga menyapa lebih banyak negara.

“Kami ingin sekali bisa ikut (lagi) pameran semacam TEI. Kemudian kami juga berharap, bisa mendapatkan akses untuk pameran langsung bertemu buyer yang ada di luar negeri,” ucap Toni.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengunjungi Kampung Singkong Argotelo pada 18 Juni 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha lokal. Pemerintah juga terus membuka akses promosi, business matching, coaching ekspor, serta jejaring perdagangan internasional agar langkah Argotelo semakin panjang menuju pasar dunia.

“Saya bangga Argotelo tidak sekadar berbisnis, tetapi turut memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Argotelo membuktikan produk lokal yang memiliki kualitas unggul akan mampu berdaya saing di pasar global,” ujar Budi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....