Jaga Produksi Pangan, Kementan Percepat Pompanisasi
- 04 Jul 2026 02:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementan mempercepat pelaksanaan program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air irigasi sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino 2026.
- Percepatan program pompanisasi menjadi strategi utama menghadapi potensi fenomena El Nino yang diprediksi BMKG.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pelaksanaan program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air irigasi sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino 2026. Upaya tersebut dilakukan agar produksi pangan nasional tetap optimal dan target swasembada pangan dapat terus dipertahankan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah memilih melakukan langkah mitigasi sejak dini. Ini dilakukan sebelum kekeringan meluas dan mengganggu musim tanam petani.
"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam," kata Amran dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat 3 Juli 2026.
Menurutnya, percepatan program pompanisasi menjadi strategi utama menghadapi potensi fenomena El Nino yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berada pada kategori lemah hingga moderat.
Melalui percepatan penyaluran pompa air, rehabilitasi jaringan irigasi, dan optimalisasi sumber air, pemerintah berupaya memastikan petani tetap dapat menanam. Sehingga produksi pangan nasional tetap terjaga.
Amran menegaskan pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi harus dilakukan lebih awal. "Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman," ujarnya.
Selain pompanisasi, Kementan juga mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan. Serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
"Kita tidak boleh menunggu krisis terjadi. Prinsip kita adalah mitigasi dari hulu. Air harus tersedia, irigasi harus berfungsi, dan petani harus tetap bisa menanam. Dengan cara itu, produksi pangan nasional tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan iklim," kata Amran.
Ia menambahkan strategi mitigasi perubahan iklim menjadi semakin penting seiring percepatan program swasembada pangan yang tengah dijalankan pemerintah. Menurut Amran, berbagai intervensi pemerintah telah menunjukkan hasil positif.
Cadangan beras pemerintah saat ini mencapai 5,1 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Sementara proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peningkatan produksi beras tertinggi di dunia pada periode 2025–2026.
Program pompanisasi menjadi salah satu strategi adaptasi perubahan iklim yang diandalkan Kementan untuk memastikan pasokan air tetap tersedia saat curah hujan menurun. Dengan dukungan pompa air, lahan yang berpotensi mengalami kekeringan tetap dapat diairi sehingga petani tidak kehilangan kesempatan tanam.
Kementerian Pertanian menyatakan akan terus memantau perkembangan iklim di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu mempercepat berbagai langkah antisipasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemda, dan petani, ia optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga. Serta target swasembada pangan dapat tercapai meski menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....