Mensos Dukung Pengusulan STA sebagai Pahlawan Nasional

  • 03 Jul 2026 07:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan dukungan terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026.
  • Dukungan tersebut disampaikan saat membuka Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS) di Jakarta.
  • STA dinilai berjasa memodernisasi bahasa Indonesia, termasuk menyusun tata bahasa Indonesia secara sistematis dan memperkenalkan kaidah MD dan DM.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan dukungannya terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional. Menurut dia, kepahlawanan tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga lewat gagasan dan pemikiran yang memberi pengaruh besar bagi perjalanan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Saifullah saat membuka Seminar Nasional bertajuk "Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana: Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia", yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS) di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juni 2026.

"Salah satu warisan terbesar STA adalah mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Saya berharap proses pengusulan ini berjalan lancar sehingga STA dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional," kata Saifullah.

Seminar tersebut merupakan bagian dari upaya menghimpun dukungan akademik sekaligus memperkuat naskah pengusulan STA sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026. Lebih dari 300 peserta yang terdiri atas akademisi, budayawan, sejarawan, dosen, mahasiswa, guru, pelajar, dan tokoh masyarakat mengikuti forum ilmiah tersebut.

Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS, Nana Yuliana, mengatakan seminar digelar untuk mendokumentasikan kontribusi intelektual STA melalui kajian ilmiah yang komprehensif. Melalui forum ini, pihaknya ingin menghadirkan berbagai perspektif akademik yang dapat memperkuat pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional.

"STA merupakan salah satu tokoh pembaharu yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia. Selain menyusun tata bahasa Indonesia secara sistematis pada masa pendudukan Jepang, STA juga memperkenalkan kaidah MD (Menerangkan–Diterangkan) dan DM (Diterangkan–Menerangkan) yang menjadi bagian penting dalam pembakuan bahasa Indonesia," ujar Nana memaparkan.

Kontribusi STA juga tercermin melalui karya-karya sastra seperti Layar Terkembang, Dian yang Tak Kunjung Padam, dan Kalah dan Menang. Melalui gerakan Pujangga Baru dan Polemik Kebudayaan, pemikirannya dinilai turut membentuk arah perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.

Di bidang pendidikan, STA ikut memperjuangkan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia pada masa kolonial. Serta, mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional.

Seminar menghadirkan sejarawan Anhar Gonggong, budayawan Tommy F. Awuy, dan pakar sastra Sunu Wasono sebagai narasumber. Perwakilan keluarga STA, Tamalia Alisjahbana, turut memaparkan perjalanan hidup dan kiprah STA, sedangkan sastrawan Taufiq Ismail membacakan dua puisi karya STA sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan intelektualnya.

Melalui forum tersebut, kalangan akademisi berharap dukungan terhadap pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai Pahlawan Nasional semakin menguat. Sosok STA dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun fondasi bahasa Indonesia modern, memperkaya khazanah sastra nasional, serta mendorong kemajuan pendidikan dan kebudayaan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....