Penerjemahan Sastra Indonesia Diperluas, Menbud: Kontemporer Masih Dikurasi
- 03 Jul 2026 16:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kebudayaan melanjutkan penerjemahan enam karya sastra klasik Indonesia ke bahasa Inggris sepanjang 2026 untuk memperluas jangkauan internasional.
- Karya sastra kontemporer masih dalam tahap kurasi, dengan sejumlah penulis seperti Armin Pane, Subagio Sastrowardoyo, dan Putu Wijaya masuk daftar pertimbangan.
- Laboratorium Penerjemahan Sastra terus memperkuat ekosistem sastra melalui pelatihan penerjemah, kolaborasi dengan 18 festival sastra, dan 35 komunitas sastra.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) akan melanjutkan penerjemahan karya sastra klasik Indonesia ke dalam bahasa Inggris sepanjang tahun 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan sastra Indonesia di tingkat internasional.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan penerjemahan karya sastra klasik-kontemporer juga sedang dipersiapkan melalui proses kurasi yang ketat. Pemerintah memprioritaskan karya yang belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa asing sebelumnya.
"Pokoknya dipilih, nggak per-provinsi, tapi karya-karya yang bisa sudah dianggap mewakili puncak kesusastraan Indonesia. Tahun ini, ada enam karya klasik lagi yang sedang diterjemahkan, kalau kontemporernya masih dipilih," ujarnya kepada wartawan usai menghadiri acara Sasana: Membaca Klasik Indonesia, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Kamis, 2 Juli 2026.
Ia mengatakan proses seleksi dilakukan secara cermat agar karya yang diterjemahkan mampu mewakili kekayaan sastra Indonesia. Pendekatan tersebut diharapkan memperluas pengenalan sastra nasional kepada pembaca di berbagai negara.
Ia menyebut sejumlah penulis kontemporer telah masuk dalam daftar pertimbangan penerjemahan oleh tim kurator. Di antaranya terdapat karya Armin Pane, Subagio Sastrowardoyo, dan Putu Wijaya yang sedang dikaji lebih lanjut.
Proses penerjemahan karya sastra kontemporer dilakukan melalui Laboratorium Penerjemahan Sastra yang berada di bawah Kementerian Kebudayaan. Program tersebut juga disertai pelatihan dan lokakarya untuk meningkatkan kapasitas penerjemah sastra Indonesia.
"Penerjemahan karya sastra memiliki karakter yang berbeda dibandingkan penerjemahan karya nonfiksi. Karena itu, penerjemah memerlukan kemampuan, diksi, dan instrumen yang sesuai dengan karakter setiap karya," katanya, menegaskan.
Ia berharap semakin banyak penerjemah sastra Indonesia yang mampu menghasilkan terjemahan berkualitas untuk pembaca internasional. Langkah tersebut juga diharapkan memperkuat promosi sastra Indonesia di panggung dunia melalui karya terjemahan.
Lebih jauh, rangkaian program Laboratorium Penerjemahan Sastra dilakukan telah berjalan optimal sepanjang tahun 2025. Demikian disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis.
"Kami menggandeng 18 festival sastra, melibatkan 35 komunitas sastra. Dan juga lahir generasi-generasi muda dari laboratorium penerjemah sastra dan laboratorium promotor sastra, jadi senang sekali," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....