Pemerintah Telah Intervensi 1,34 Juta Ton Jaga Inflasi Beras

  • 02 Jul 2026 07:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah menyalurkan 1,34 juta ton Cadangan Beras Pemerintah hingga Juni 2026
  • Intervensi dilakukan melalui SPHP, bantuan pangan, ASN, dan penanganan bencana
  • Inflasi beras tahunan Juni 2026 turun menjadi 3,98 persen
  • Harga beras medium di seluruh zona masih berada di bawah HET
  • Stok beras pemerintah mencapai 5,1 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah

RRI.CO.ID, Jakarta — Pemerintah telah menyalurkan 1,34 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga akhir Juni 2026 melalui berbagai program intervensi. Langkah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas harga beras dan menahan laju inflasi di tingkat konsumen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi beras secara tahunan pada Juni 2026 sebesar 3,98 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan inflasi beras secara bulanan juga masih terkendali. Pada Juni 2026, inflasi beras secara bulanan tercatat sebesar 0,45 persen.

"Di tingkat eceran terjadi inflasi beras secara month to month sebesar 0,45 persen dan secara year on year sebesar 3,98 persen," kata Ateng di Jakarta, Rabu 1 Juli 2026.

Secara historis, inflasi beras tahunan Juni 2026 jauh lebih rendah dibandingkan Juni 2024 yang mencapai 11,88 persen. Angka tersebut juga hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 sebesar 3,38 persen.

BPS juga mencatat andil beras terhadap inflasi bulanan hanya sebesar 0,02 persen. Nilai itu lebih rendah dibandingkan komoditas bawang merah dan bawang putih yang masing-masing mencatat inflasi 6,52 persen dan 6,88 persen.

Sementara itu, harga beras medium di berbagai wilayah masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Per 1 Juli 2026, rata-rata harga beras medium di Zona I tercatat Rp13.098 per kilogram, Zona II Rp13.722 per kilogram, dan Zona III Rp15.397 per kilogram.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut stabilitas harga tersebut didukung penggelontoran CBP melalui Perum Bulog. Sejak Januari hingga Juni 2026, total intervensi beras mencapai 1,34 juta ton.

Jumlah tersebut terdiri atas penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Januari-Februari sebanyak 221,05 ribu ton. Penyaluran SPHP periode Maret-Juni mencapai 406,5 ribu ton.

Selain itu, pemerintah telah menyalurkan bantuan pangan kepada 33,14 juta keluarga penerima manfaat dengan total 662,86 ribu ton beras. Sisanya digunakan untuk golongan anggaran aparatur sipil negara di wilayah tertentu sebanyak 40,72 ribu ton dan penanganan bencana alam sebesar 11,37 ribu ton.

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengatakan stok beras pemerintah saat ini mencapai 5,1 juta ton. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

"Stok kita hari ini tertinggi sepanjang sejarah. FAO juga memperkirakan produksi beras Indonesia tahun 2026 mencapai 38 juta ton," ucap Amran.

Amran menambahkan peningkatan produksi akan memperkuat cadangan beras nasional. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan 100 gudang baru senilai Rp5 triliun untuk memperbesar kapasitas penyimpanan beras hingga dua sampai tiga tahun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....