BPOM Perluas Program Manajemen Risiko untuk UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih

  • 30 Jun 2026 13:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPOM memperluas Program Manajemen Risiko untuk menjangkau lebih banyak UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih
  • Sebanyak 83 ribu Koperasi Desa Merah Putih menjadi perhatian dalam penguatan keamanan, kualitas, dan keterjangkauan pangan olahan
  • BPOM menargetkan pendampingan bagi hampir tiga juta UMKM pangan yang belum terlayani melalui Program Manajemen Risiko

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan Program Manajemen Risiko (PMR) terus diperluas untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha pangan. Perluasan tersebut mencakup UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) guna memperkuat pengawasan keamanan produk pangan olahan.

Taruna mengatakan, jumlah KDMP yang direncanakan sekitar 83 ribu memerlukan jaminan keamanan pangan olahan. Menurutnya, kualitas, keamanan, dan keterjangkauan produk harus dipastikan sebelum sampai kepada masyarakat luas di berbagai daerah.

“Koperasi Desa Merah Putih yang jumlahnya 83.000, karena di situ ada pangan-pangan olahan yang perlu dipastikan. Dipastikan keamanannya, dipastikan kualitasnya, dan dipastikan keterjangkauannya sampai ke masyarakat luas,” katanya usai kegiatan ‘Forum Koordinasi Nasional Pangan Steril Komersial Tahun 2026’ di Kantor BPOM, Selasa, 30 Juni 2026.

Ia menyebut jumlah pelaku UMKM pangan berdasarkan data BPOM mencapai sekitar 4,2 juta usaha di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1,2 juta pelaku usaha telah memperoleh layanan Badan POM hingga saat ini.

Taruna mengatakan, masih terdapat ruang pelayanan bagi hampir tiga juta pelaku UMKM yang belum terjangkau program. BPOM, lanjutnya, bertekad memberikan pendampingan kepada seluruh pelaku usaha melalui Program Manajemen Risiko secara bertahap.

“Nah, tapi berarti ini kan masih tumbuh ke depan, masih ada space hampir 3 jutaan yang belum kita layani. Kita bertekad untuk melayani mereka semuanya dan salah satu poin dari UMKM itu termasuk adalah PMR,” ucapnya.

Ia mengibaratkan Program Manajemen Risiko seperti mengajarkan pelaku usaha mengemudikan kendaraan secara mandiri dan bertanggung jawab. Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu mengawasi proses produksi tanpa selalu bergantung kepada pengawasan eksternal.

“Kita mau ajarin para pelaku usaha kita ini nyupir sendiri, tentu kalau dia supir sendiri, dia tanggung jawab, kan?. Kalau dia sadar dia apa, jangan nabrak, dan sebagainya, jangan melanggar, itulah perumpamaan dari program manajemen risiko,” ujar Taruna.

Taruna juga menegaskan Program Manajemen Risiko telah diuji selama sepuluh tahun dan memberikan hasil yang meyakinkan. Ia optimistis program tersebut dapat berkembang lebih maju sekaligus meningkatkan tanggung jawab industri dalam menjaga keamanan pangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....